Wayang Golek Giri Harja

Perajin Wayang Jelekong Tidak Berguru, Wayangnya Dipesan Banyak Dalang, Harganya Jutaan

RUDI Yantika (39) telaten mengukir kayu albasiah menjadi kepala wayang Si Cepot. Sesekali dia mengambil pensil kemudian menandai kayu tersebut dengan

TRIBUN JABAR/JANUAR P HAMEL
RUDI Yantika (39), perajin wayang di bengkel wayangnya di Neglasari, Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat (17/1). 

RUDI Yantika (39) telaten mengukir kayu albasiah menjadi kepala wayang Si Cepot. Sesekali dia mengambil pensil kemudian menandai kayu tersebut dengan oretan kemudian mengukirnya.

Di bengkel wayangnya di Neglasari, Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat (17/1), dia bersama perajin lainnya membuat wayang. Rudi kebagian mengukir sedangkan yang lainnya ada yang mengecat dan membereskan bengkel.

Rudi adalah satu-satunya perajin wayang yang mahir mengukir di kawasan Jelekong. Orang yang berprofesi ini sudah jarang ditemukan di Jawa Barat. Pedalang Bhatara Sena menyebut perajin wayang di Jawa Barat bisa dihitung dengan jari.

Untuk menyelesaikan ukiran satu wayang, Rudi membutuhkan waktu dua hari. Adapun untuk wayang utuh, perajin wayang bisa menyelesaikannya seminggu bahkan sebulan.

Wayang tersebut dikerjakan secara bergotong royong, ada yang khusus membuat kepalanya, bajunya, mengecat, membuat badan, dan tangannya.

"Yang paling sulit itu mengukir. Ahli mengukir wayang ini sudah sangat jarang. Di sini saja hanya ada saya saja yang bisa mengukir," katanya.

RUDI Yantika (39), perajin wayang di bengkel wayangnya di Neglasari, Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat (17/1)
RUDI Yantika (39), perajin wayang di bengkel wayangnya di Neglasari, Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jumat (17/1) (TRIBUN JABAR/JANUAR P HAMEL)

Menurut Tresna Sunagar Sunarya (33), mengukir wayang itu tidak sembarangan karena harus memiliki keahlian khusus. Karakter wayangnya harus dapat. Kalau tidak, ya, nggak kaya wayang. Wayang Gatot Kaca misalnya, karakter wajahnya harus benar-benar tergambar," kata Tresna yang juga adik Rudi.

Rudi mengaku mahir mengukir wayang karena ada faktor keturunan. Dia memang berada di lingkungan pedalang di Giri Harja. Ayah Rudi, Ugan Sunagar Sunarya adalah adiknya dalang Asep Sunandar Sunarya

"Kemauan juga, kalau tidak ada kemauan meski ada keturunan tidak akan jadi pengukir. Saya mengukir sejak SD sudah pegang pisau. Kalau hasil karya wayang jadi uang, mah, sekitar tahun 2000-an," kata Rudi.

Wayang Golek Terancam Punah, Perajinnya Jarang, Dalang Batara Sena Buka Suara

Rudi mendapat keahlian sebagai perajin wayang tidak belajar khusus. Dia mengaku autodidak dengan melihat perajin lain membuat wayang. "Ngeliatin saja orang bikin wayang. Nanti pas pulang, langsung praktek," katanya.

Rudi merupakan perajin wayang yang serbabisa. Tokoh siapa pun dalam pewayangan bisa dikerjakan Rudi. "Bahkan kakak saya ini membikin keris atau panah yang sering digunakan dalam mendalang," kata Tresna.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1509486992412012&set=t.100014157552670&type=3&theater

Wayang-wayang itu Rudi jual untuk yang punakawan atau buta (raksasa) Rp 1.000.00-1.500.000. Untuk wayang lainnya seperti Gatot Kaca, dia jual Rp 1.500.000-5.000.000.

Para peminat tidak bisa langsung beli, namun harus melakukan pemesanan dulu. Biasanya, kata Rudi, pemesan membayar uang muka. "Buat modal. Besarnya tergantung. Kalau pemesan baik uang mukanya bisa besar," kata Rudi. (januar ph)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved