Psikiater Duga Pemimpin Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat Alami Gangguan Kejiwaan

Terlebih, dalam kegiatannya, keduanya mengaku sebagai pemimpin yang membawahi seluruh masyarakat di beberapa belahan dunia, dengan jumlah pengikut men

Istimewa
Sunda Empire ternyata kerap berkegiatan di beberapa lokasi di Bandung. Hal tersebut terlihat dalam channel YouTube yang mengatasnamakan Sunda Empire. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Munculnya fenomena organisasi baru yang mengatasnamakan diri sebagai Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, yang viral beberapa waktu terakhir di jagat media sosial, cukup meresahkan netizen dan juga masyarakat secara luas.

Terlebih, dalam kegiatannya, keduanya mengaku sebagai pemimpin yang membawahi seluruh masyarakat di beberapa belahan dunia, dengan jumlah pengikut mencapai ratusan orang.

Menanggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Kejiwaan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Teddy Hidayat, dr SpKj (K) menilai, fenomena tersebut dilatarbelakangi beberapa hal yang membuat seseorang berkhayal atau berimajinasi laiknya seorang pemimpin yang berkuasa atas berbagai hal, untuk menutupi kekurangan dirinya.

"Kondisi ini berupa khayalan, fantasi atau lamunan dari seseorang untuk memperoleh kepuasan diri namun sulit diwujudkan, yang dilatarbelakangi oleh kondisi kekalahan dalam persaingan, ekonomi lemah, merasa tidak pernah dihargai atau kondisi ketidaknyamanan tertentu lainnya, sehingga dirinya melamun dengan seolah-olah telah mampu mencapai segala keinginannya," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (18/1/2020).

Jika Sunda Empire Serupa Keraton Agung Sejagat, Polda Jabar Siapkan Langkah Ini

Meski begitu, hal seperti ini, kata Teddy, perlu ditelusuri lebih lanjut melalui pemeriksanaan kesehatan, apakah motifnya mencari keuntungan ekonomi atau motif lainnya.

Bahkan menurutnya, fenomena tersebut serupa dengan fenomena Sensen Komara di wilayah Garut pada 2018.

Saat itu, Sensen Komara mengaku rasul. Ia mengatakan bahwa gejala kejiwaan pada Sensen Komara disebut paranoid.

"Apabila seseorang tersebut, sudah tidak mampu membedakan antara realita dengan fantasi atau khayalan yang dia percayai atau koreksi terkait kebenarannya, baru bisa di kategorikan sebagai adanya gangguan kejiwaan pada pemimpinnya atau yang menganggap dirinya sebagai seorang raja," ucapnya.

Totok Santoso Hadiningrat alias Sinuhun sebagai Raja Keraton Agung Sejagat, dan Dyah Gitarja sebagai Kanjeng Ratu.
Totok Santoso Hadiningrat alias Sinuhun sebagai Raja Keraton Agung Sejagat, dan Dyah Gitarja sebagai Kanjeng Ratu. (IST/Twitter via ReqNews)

Disinggung terkait banyaknya masyarakat yang menjadi pengikut atau terlibat dalam organisasi tersebut, Teddy menuturkan, hal tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai adanya masalah kejiwaan serupa.

Halaman
12
Penulis: Cipta Permana
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved