Kesenian Tradisional Wayang Golek Dikhawatirkan Punah, Dalang Ungkap Tanda-tandanya

Menurutnya, yang membuat dalang bisa memainkan wayang, satu faktornya adalah wayangnya yang bagus.

Kesenian Tradisional Wayang Golek Dikhawatirkan Punah, Dalang Ungkap Tanda-tandanya
januar pribadi hamel/tribun jabar
CEPOT IPIS - Bhatara Sena, pedalang, memainkan wayang kulit Cepot Ipis. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - ADA kekahwatiran dari dalang Bhatara Sena (33) wayang golek bakal punah.

Tanda-tanda itu sekarang mulai terasa. Jarangnya perajin wayang golek tradisi membuat dalang kesulitan untuk mencari wayang yang berkualitas.

"Saking krisisnya perajin wayang di Jawa Barat bisa dihitung jari. Bisa disebut hampir punah,"  kata Bhatara ditemui Tribun di rumahnya di Jalan Giri Harja, Jelekong, Baleedah, Kabupaten Bandung, Kamis (16/1/2020).

Menurut Bharata memang wayang untuk suvernir sangat banyak diproduksi, tapi tidak bisa dimainkan oleh dalang. Lagi pula, katanya, perbedaannya sangat banyak dengan wayang tradisi.

Menurutnya, yang membuat dalang bisa memainkan wayang, satu faktornya adalah wayangnya yang bagus.

"Sangat berbeda wayang tradisi dan wayang suvenir," katanya.

Bhatara mengatakan bisa jadi jarangnya perajin wayang sangat sedkit karena permintan juga kurang. Dalang, kata Bhatara, memang banyak, tetapi wayang bukan kebutuhan pokok yang setiap hari harus tersedia.

"Harganya juga bisa jadi pengaruh. Mungkin pembeli kaget, ternyata harga wayang itu bisa jutaan," katanya.

Untuk mengakali agar wayang golek tradisi tidak punah, Bhatara tetap mendalang. Karena, menurutnya dengan mendalang, dia akan membutuhkan wayang.

"Yang penting bisa dipakai sendiri. Itu akal saya agar wayang tidak punah," katanya.

Fenomena ini, kata Bhatara, terjadi setelah dalang Asep Sunandar Sunarya melambungkan wayang golek yang berakibat harganya menjadi mahal. "Abah Asep dulu memberikan insentif kepada perajin wayang. Dari sanalah ada standar harga perajin," katanya.

Perajin wayang di Manggahang, Rudi Yantika (39), berpendapat serupa. Dia merasakan tidak ada lagi generasi di bawahnya yang akan meneruskan keahliannya membuat wayang.

"Jarang sekali yang mau belajar. Kalau pun ada nggak lama. Cepat bosannya. Mungkin karena membuat wayang itu perlu ketelitian dan kesabaran," ujar Rudi di bengkel wayangnya di Kampung Neglasari, Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, Jumat (17/1/2020).

Menurutnya, sekarang yang berprofesi dalang sangat banyak, sebaliknya perajin wayang golek sangat sedikit. Lagi pula, katanya, dalang tidak setiap tahun beli wayang.

Menurut Tresna Sunagar Sunarya (33) yang berprofesi dalang mengatakan, para dalang itu kebanyakan membeli wayang satu kali seumur hidup. Mereka, katanya, agar tetap bisa menggunakan wayang-wayang tersebut, setiap berkala diservis.

Bisa juga, kata Tresna, penghasilan perajin wayang itu relatif tidak besar. Harunya, menurut Tresna, para dalang mengerti dengan keadaan para perajin.    

Perajin wayang lainnya, Uze Alfariji (40), pembutan wayang yang memakan waktu juga membuat profesi perajin wayang tidak diminati. Untuk membuat sebuah wayang, kata Uze, membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Membuat pakaiannya membutuhkan waktu, mengukirnya juga, mengecatnya pun membutuhkan waktu. Dikerjakan terpisah, jadi itu yang menjadikan membuat wayang itu bisa lama," kata Uze ditemui di tempat kerjanya, Jalan Giri Harja, Jelekong, Baleedah, Kabupaten Bandung, Kamis (16/1/2020). (januar ph)

Penulis: Januar Pribadi Hamel
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved