Presiden AS Izinkan Pembunuhan Jenderal Iran Sejak 7 Bulan Lalu, Donald Trump Sempat Tak Setuju

Serangan yang dilakukan pasukan Amerika Serikat beberapa waktu lalu menyebabkan Jenderal Iran, Qasem Soleimani, tewas.

AFP via BBC
Mayor Jenderal Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds yang merupakan cabang dari Garda Revolusi Iran. Soleimani disebut tewas dalam serangan yang terjadi di Bandara Internasional Baghdad, Irak, Jumat (3/1/2020). AS mengumumkan mereka yang melakukan serangan atas arahan presiden. 

Adalah mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, yang mendesak agar operasi pembunuhan Soleimani bisa dilaksanakan.

Kata Pakar Timur Tengah Soal Serangan Iran Bombardir Pangkalan Militer AS: Bukan Isapan Jempol

Usulan tersebut diberikan setelah Garda Revolusi Iran mengklaim menembak sebuah drone AS jenis RQ-4A Global Hawk.

Pendapat itu kemudian mendapat dukungan dari Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, di mana dia juga mendesak Trump mengizinkan Pentagon menyerang Soleimani.

Namun Trump dilaporkan menolak ide tersebut. Dia menegaskan baru akan mengizinkannya jika Iran sudah melewati batas, yaitu membunuh warga AS.

"Pesan presiden jelas. Opsi itu hanya boleh ada di mejanya jika Iran sampai berani menyerang warga Amerika," tutur sumber itu.

Ketika pertama menjabat pada 2017, Trump sebenarnya sudah mendapat pengarahan dari Pompeo yang saat itu adalah Direktur CIA.

Saat itu, presiden 73 tahun itu tersebut mendapat data intelijen bahwa Soleimani merupakan "ancaman paling serius yang masih belum berbuah".

Masih pada 2017, Penasihat Keamanan Nasional saat itu, HR McMaster, sudah mendiskusikan rencana untuk membunuh Soleimani.

Mengaku Punya Kekuatan Mumpuni, Donald Trump Mundur dari Kemungkinan Perang dengan Iran

"Namun, saat itu cara tersebut tak dipandang sebagai langkah utama yang harus segera dilakukan," beber si sumber.

Ide menyerang komandan Pasukan Quds itu makin serius digodok setelah McMaster digantikan oleh Bolton, yang dikenal sangat keras terhadap Teheran.

Halaman
123
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved