Breaking News:

VIDEO Anggaran CFD/CFN Besar, Warga Minta Perbaikan Fasilitas

CFD yang digelar setiap hari minggu dan CFN dua kali, pada minggu kedua dan keempat setiap bulannya sekitar, Rp. 564.690.000 di tahun 2018

Penulis: Cipta Permana | Editor: yudix

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelaksanaan kegiatan Car Free Day (CFD) yang digelar oleh Pemerintah Kota Bandung setiap akhir pekan di hari Minggu, serta Car Free Night (CFN) setiap minggu kedua dan keempat setiap bulannya, selain bertujuan sebagai sarana terbuka bagi aktivitas masyarakat, tetapi juga merupakan salah satu upaya mengurangi tingkat polusi emisi gas buang kendaraan di Kota Bandung.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, CFD di Kota Bandung dilaksanakan mulai dari Jalan Ir H Juanda (Dago) hingga ke persimpangan Jalan Cikapayang di bawah Flyover Pasopati.

Beragam aktivitas masyarakat pun di lakukan di sepanjang jalan kurang lebih 1,5 Km tersebut, seperti berolah raga, mulai berjalan kaki, menggunakan sepeda atau senam zumba diiringi oleh dentuman musik beraliran beat yang menggema dari soundsystem di beberapa lokasi kegiatan.

Car Free Day
Car Free Day (Tribun Jabar)

Rindangnya suasana di bawah pepohonan tinggi pun dimanfaatkan oleh tim pemasaran dari institusi unit kemahasiswaan atau perusahaan untuk
menggelar promosi juga sosialisasi terkait acara maupun peluncuran produk baru. Disamping itu, beberapa pedagang kaki lima, baik itu hasil karya produk, hingga kuliner pun ikut meramaikan suasana dengan mencoba menawarkan dagangannya dari sisi bagian persil lahan pertokoan.

Kemeriahan suasana dari kegiatan CFD Dago yang telah bergulir hampir sepuluh tahun, sejak era Wali Kota Bandung, Dada Rosada, berlanjut kepada Ridwan Kamil, hingga kini Oded M. Danial, menyimpan sebuah rahasia yaitu, adanya alokasi anggaran khusus yang diperuntukan biaya koordinasi penyelenggaraan dengan angka mencapai nilai ratusan juta hingga miliaran Rupiah per tahun.

Salah seorang pengunjung CFD Dago, Ai Tiya Suryani (19) mahasiswi Politeknik LP3I Bandung mengatakan, dirinya tidak menduga atau mengetahui terkait besaran anggaran yang harus dikeluarkan oleh Pemkot Bandung untuk melaksankan kegiatan CFD selama ini.

Terlebih, dirinya menyangkan karena untuk mewujudkan fasilitas umum seperti di kawasan CFD Dago, yang tidak memerlukan pembangunan fisik apapun, namun Pemerintah Kota Bandung harus mengeluarkan biaya yang cukup besar.

CFD dan CFN
CFD dan CFN (Tribun Jabar)

"Di sisi lain memang sarana ini dibutuhkan oleh masyarakat untuk aktivitas olahraga atau rekreasi, tapi disamping itu cukup disyangkan juga, karena untuk menggelar CFD ini pemerintah harus mengeluarkan uang yang cukup besar. Mudah-mudahan pemerintah memiliki solusi atau pertimbangan lain untuk dapat menekan besaran biaya tersebut," ujarnya saat ditemui di CFD Dago, Jalan Ir. H Juanda, Bandung. Minggu (12/1/2020).

Pengunjung lainnya, Deden Mulyadi (36) seorang karyawan swasta dan warga Kelurahan Warung Muncang, Kecamatan Bandung Kulon. Menurutnya, meskipun penyelenggaraan CFD Dago selama ini sudah cukup baik, namun dirinya berharap, Pemerintah Kota Bandung, selain menambah jumlah pepohonan agar semakin sejuk, tetapi juga disertai denga menggelar kegiatan pelestarian budaya tradisional.

Sebab, keberadaan CFD bukan hanya dimanfaatkan oleh pengunjung yang hendak berolah raga, tetapi juga mencari ketenangan ditengah hiruk pikuk aktivitas kota setiap hari.

"Dengan adanya penambahan jumlah pohon juga menggelar aktivitas kesenian Sunda, selain menjadi pelengkap bagi pengunjung yang akan berekreasi, tapi juga salah satu upaya memperkenalkan dan melestarikan budaya tradisional khas Jawa Barat kepada generasi muda," ucapnya di lokasi yang sama.

Hal senada disampaikan oleh Derisan Nugraha (19), warga Kelurahan Padjajaran, Kecamatan Cicendo yang merupakan mahasiswa UPI, menuturkan, sebagai kawasan bebas kendaraan, dirinya masih menemukan
pengunjung yang membawa kendaraannya masuk kedalam kawasan CFD Dago meskipun hal itu sudah dilarang.

Selain itu, dirinya meminta agar petugas dapat menertibkan pedangan keliling yang menjual dagangannya dengan cara memaksa. Hal itu cukup mengganggu kenyamanan dari para pengunjung yang ingin menikmati suasana di CFD Dago.

"Untuk petugas dari pemerintah maupun aparat kepolisian, mudah-mudahan kedepan dapat lebih tegas lagi dalam menerapkan aturan terkait pelaksanaan kegiatan CFD Dago, karena saya masih melihat ada pengunjung yang memaksa untuk masuk ke kawasan CFD meskipun jelas dilarang. Selain itu, juga pedagang yang berjualan secara memaksa dapat ditindak tegas," ujar Nugraha.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Ketertiban Transportasi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung, Asep Koswara membantah kabar yang menyebutkan alokasi anggaran koordinasi penyelenggaraan Car Free Day dan Car Free Night (CFD/CFN), sebesar Rp.1,4 miliar per tahun. Jumlah tersebut, disebut mengacu pada dokumen APBD Kota Bandung tahun 2020.

Menurutnya, besaran anggaran penyelenggaraan CFD / CFN menurutnya, rata-rata sebesar Rp. 600 jutaan setiap tahunnya. Jumlah tersebut, meliputi beberapa pos pengeluaran seperti, belanja makan dan minum kegiatan dan honorarium petugas yang bertugas di kegiatan CFD/CFN.

Ia menuturkan, untuk rincian besaran anggaran operasional CFD yang digelar setiap hari minggu dan CFN dua kali, pada minggu kedua dan keempat setiap bulannya sekitar, Rp. 564.690.000 di tahun 2018, Rp. 629,459,500 pada tahun 2019, sedangkan untuk tahun 2020, Rp. 1.197.725.000.

Pada tahun 2018 rincian pos pengeluaran kegiatan CFD/CFN di meliputi, belanja makan dan minum kegiatan, Rp. 46.250.000; belanja honorarium narasumber diklat petugas pengatur lalu lintas, Rp 9 juta; dan honorarium tenaga pegawai honorer atau tidak tetap Dishub Kota Bandung, serta petugas dari instansi kepolisian, koramil, dan pihak kewilayahan yang terlibat dalam kegiatan CFD/CFN sekitar 100 orang, sebesar Rp. 509.440.000.

Sedangkan pengeluaran di tahun 2019 meliputi, belanja makanan dan minuman dalam kegiatan CFD/CFN mencapai Rp. 161.969. 500 dan biaya honorarium petugas jajaran samping, sekitar Rp. 467.500.000.

Sementara tahun 2020, pos pengeluaran penyelenggaran CFD/CFN yaitu, belanja makanan dan minuman sebesar Rp.137.600.000 dan belanja jasa tenaga ahli atau narasumber/honorarium honorarium petugas jajaran samping di lapangan mencapai Rp. 1.060.125.000.

"Di tahun 2019 dan 2020, selain tadi, ada juga pos anggaran belanja kebutuhan operasional lainnya, seperti belanja seragam dinas lapangan, belanja peralatan dan mesin serta alat olahraga juga belanja perangkat komunikasi radio UHF atau HT, yang apabila di jumlahkan secara keseluruhan memang mencapai angka Rp. 1,4 M. Jadi itu (anggaran) di gabungkan semua di rekening yang sama, bukan untuk CFD/CFN saja, saya juga engga mau untuk apa gede-gede teuing," ujarnya saat ditemui di Kantor Dishub Kota Bandung, Jalan Leuwi Panjang, Bandung. Jumat (10/1/2020).

Menurutnya, meski telah direncanakan dan laksanakan untuk pertama kali pada tahun 2010 lalu, namun Dishub Kota Bandung baru ditunjuk menjadi leading sector dari penyelenggaran CFD dan CFN pada tahun 2017, setelah sebelumnya menjadi tupoksi Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung.


Hal itu, berdasarkan pada surat keputusan Wali Kota Bandung yang ditandatangi oleh Mochamad Ridwan Kamil pada 2 Maret 2017, dengan Nomor 551/Kep.286-DISHUB/2017 tentang, Penyelenggaraan Car Free Day Kota Bandung.

Selain Dishub Kota Bandung, menurutnya, terdapat 12 instansi terkait lainnya yang menjadi penyelenggaran dari kegiatan yang digelar rutin setiap hari minggu tersebut yaitu, Bagian Operasional Polrestabes Bandung, Sabhara Polrestabes Bandung, Satlantas Polrestabes Bandung, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Kota Bandung, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung, Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dinas Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kota Bandung, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Pertamanan Kota Bandung, Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung, dan segenap musyarawah pimpinan kecamatan pada tempat penyelenggaraan CFD/CFN.

"Jadi bukan hanya Dishub saja yang terlibat dalam operasional kegiatan CFD dan CFN itu, tapi ada instansi terkait dan jajaran samping yang berkompeten di bidang penyelenggaraan ini. Untuk itu dalam penyelenggaraanya, kami terus berkoordinasi selain dengan SKPD terkait di Pemkot Bandung, tapi juga dengan Polrestabes Bandung, Koramil, dan aparat kewilayahan Kecamatan Coblong," ucapnya.

Disinggung terkait evaluasi penyelenggaraan CFD/CFN di Kota Bandung, pihaknya menjelaskan, bahwa setiap tahun gelaran tersebut dilakukan analisa dan evaluasi dalam rangka perbaikan serta memberikan kenyamanan bagi masyarakat, sebagaimana yang telah tertuang dalam Surat Keputusan Wali Kota Bandung Tahun 2017 terkait penyelenggaraan CFD/CFN.

"Jadi berdasarkan poin-poin dalam Kepwal itu diantarnya, selain tidak boleh membawa kendaraan pribadi roda dua maupun roda di dalam kawasan CF, karena berpotensi meningkatkan kadar jumlah emisi, tidak boleh membawa hewan peliharaan, semisal anjing, serta bebas dari PKL yang berjualan di trotoar serta bahu jalan, kecuali di persil pertokoan dengan seizin pemiliknya. Perlu di ketahui juga oleh masyarakat bahwa pengawasan penyelenggaraan CFD yang dilakukan oleh Pemkot Bandug, hanya di Dago Cikapayang, sedangkan di Buah Batu adalah permintaan dari salah satu LSM, jadi kami tidak ada ranah maupun kerbijakan di sana," ujar Asep.

Terkait, masyarakat yang kerapkali membawa kendaraan pribadi untuk menuju kawasan CFD Dago dan di parkir di sekitar kawaan tersebut, sehingga menyebabkan penumpukan juga kepadatan kendaraan saat penyelenggaraan CFD usai. Menurutnya, sejumlah kendaraan yang terpakir di sekitar Dago-Cikapayang, bukan hanya milik para pengunjung CFD, melainkan beberapa diantaranya merupakan masyarakat yang akan melakukan aktivitas ibadah gereja, mengantar atau membesuk pasien di RS Santo Borromeus, dan tujuan lainnya.

Termasuk, pihaknya pun akan melakukan koordinasi dengan pihak Satlantas Polrestabes Bandung, untuk menertibkan kendaraan yang terparkir di lokasi tersebut.

"Kalau semua kendaraan di sekitar CFD kami tertibkan secara ekstreem, maka kami telah melanggar toleransi dan larinya ke SARA, karena yang parkir ternyata itu jamaat yang akan ke gereja atau masyarakat yang akan ke rumah sakit. Oleh karena itu kami hanya melakukan pembatasan volume kendaraan yang terparkir di kantung-kantung parkir yang telah di sediakan dan di jaga oleh petugas. Petugas di sana pun berperan sebagai pengatur lalu lintas bagi para pengendara," katanya.(cipta permana)

Penulis: Cipta Permana
Editor: Oktora Veriawan
Video Production: Wahyudi Utomo

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved