Harga Garam Anjlok Hingga Rp 150/kg, Petambak Garam Merugi dan Ogah Jual Panenan

Petambak garam memilih menimbunnya di gudang-gudang semi permanen. Mereka berharap ada kenaikan harga garam selama beberapa bulan ke depan.

Harga Garam Anjlok Hingga Rp 150/kg, Petambak Garam Merugi dan Ogah Jual Panenan
tribunjabar/Handhika Rahman
Petani garam saat mengolah garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Selasa (17/9/2019). 

TRIBUNJABAR.ID, PAMEKASAN- Memasuki musim hujan, harga garam anjlok hingga Rp 150/kilogram.

Sebelum jatuh ke titik terendah ini, harga garam terus menurun sejak tahun 2019 hingga tahun 2020 ini.

Param petambak garam pun ogah menjual hasil produksi mereka saat harga garam berada di titik nadir.

Selain harga garam anjlok, garam rakyat juga tidak laku di pasaran. Petambak garam memilih menimbunnya di gudang-gudang semi permanen. Mereka berharap ada kenaikan harga garam selama beberapa bulan ke depan.

Zayyadi, petambak garam asal Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan menuturkan, di awal musim panen garam bulan Juni tahun kemarin, harga garam sempat bertahan di Rp 500/kilogram.

Seorang petani garam, Prima (29), saat menggarap lahan pertanian garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Minggu (24/11/2019).
Seorang petani garam, Prima (29), saat menggarap lahan pertanian garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Minggu (24/11/2019). (Tribun Cirebon/Handhika Rahman)

Semakin meningkatnya produksi dan semakin bagusnya kualitas garam, justru harga garam emakin anjlok.

"Harga garam sangat fluktuatif. Belum pernah harga anjlok sampai Rp 150/kilogram seperti tahun ini," ujar Zayyadi, saat ditemui di lokasi tambak garam, Jumat (10/1/2020).

Petani Garam di Indramayu Sebut Harga Garam Tahun Ini Terburuk Sepanjang Sejarah, Seperti Kerja Rodi

Harga Garam Anjlok Lagi di Indramayu, Sekarang Rp 150 per Kilogram

Fathur Rohim, petambak garam lainnya asal Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, memilih tidak menjual garamnya dengan cara menimbun.

Bahkan, gudang penyimpanannya sampai tidak muat dan harus membuat gudang semi permanen dengan hanya ditutupi terpal plastik.

Enggannya Fathur menjual garamnya, karena rugi. "Kalau Rp 150/kilogram saya rugi sebagai petambak karena harus dibagi dua dengan pemilik lahan yang saya sewa. Ditambah lagi ongkos kuli angkut garam ke pinggir jalan. Makanya tak saya jual," terang Fathur.

Halaman
12
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved