Sejumlah Bahan Makanan Sumbang Inflasi, Jabar Perlu Waspada di 2020

BPS Jawa Barat mencatat dari hasil pendataan harga yang meliputi tujuh kota pantauan IHK pada Desember 2019 mengalami inflasi 0, 35%

Sejumlah Bahan Makanan Sumbang Inflasi, Jabar Perlu Waspada di 2020
shutterstock
illustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat dari hasil pendataan harga yang meliputi tujuh kota pantauan Indeks Harga Gabungan (IHK) pada Desember 2019 mengalami inflasi 0, 35%. Angka ini naik dari bulan lalu. Meski masih dibawah DKI dan Banten, namun perlu kewaspadaan terhapad inflasi di tahun ini agar tetap dijaga karena iflasi di Jawa Barat masih tergolong tinggi.

Kepala BPS Jawa Barat, Dody Herlando mengatakan, dari catatan BPS laju inflasi tahun kalender “year to date” (Januari - Desember 2019) sebesar 3,21 persen
dan laju inflasi dari tahun ke tahun “year on year” (Desember 2019 terhadap Desember 2018) tercatat sebesar 3,21 persen.

"Untuk andil inflasi di Jawa Barat masih dipengaruhi oleh kelompok bahan makanan, diikuti oleh kelompok lainnya seperti kelompok sandang, kelompok kesehatan dan lain-lain," kata Dody di Bandung, Kamis (9/1/2020).

Menurutnya, hasil pemantauan harga barang dan jasa selama Desember 2019 tercatat beberapa komoditas mengalami kenaikan/penurunan harga dan memberikan andil inflasi/deflasi cukup siginifikan. Komoditas yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi antara lain telur ayam ras, bawang merah, tarif kereta api, tomat sayur, minyak goreng, daging sapi, rokok kretek filter, rokok kretek, angkutan udara, ikan mas, eskrim, batako, makanan ringan.

Sementara komoditas yang mengalami penurunan dan memberikan andil deflasi signifikan antara lain cabe merah, daging ayam ras, cabe rawit, bayam, pepaya, jeruk, ketimun, besi beton, melon, jagung manis, jengkol, televisi berwarna, wortel.

Terpisah, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Doni P Joewono mengatakan, inflasi Jawa Barat pada 2019 mencapai 3,21 persen.

Walau angka ini masih dibawah Banten dan DKI Jakarta, inflasi di Jawa Barat tetap perlu diwaspadai dan harus tetap dijaga.

"Inflasi Jawa Barat masih tergolong tinggi dan dari hasil dari survei ke kota-kota di Jawa Barat, angka inflasi masih tetap tinggi terutama di perbatasan dengan DKI Jakarta," katanya.

Meurutnya, melihat catatan inflasi di provinsi ini, perlu adanya kerjasam lintas sektor karena tidak menutup kemungkinan tekanan inflasi Jawa Barat tahun 2020 masih tetap akan tinggi.

Kota-kota atau daerah yang perlu diwaspadai adalah di perbatasan, seperti Depok, Bekasi, dan Cirebon. Di daerah tersebut bisa berpotensi menjadi penyumbang inflasi tahun ini.

Untuk antisipasi, menurutnya bisa dilakukan sejumlah langkah startegi agar inflasi tetap terkendali. Pihaknya merekomendasikan antara lain memperbaiki sistem informasi harga pasar yang update agar masyarakat memiliki informasi yang cukup terkait harga kebutuhan pokok serta revitalisasi sistem resi gudang, dan pasar induk di Jawa Barat.

"Karena itu selain kerjasama yang baik lintas sektoral, perlu aksi nyata dari pemerintah daerah setempat agar jangan sampai inflasi terlalu tinggi yang akan berakibat pada naiknya UMR tahun 2021 mendatang," katanya. (siti fatimah)

Penulis: Siti Fatimah
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved