OPINI

Banjir, Nyinyir, dan Aroma Kebencian

Allah katakan dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat bahwa boleh jadi orang yang dinista itu lebih baik dari orang yang menista.

Editor: Kisdiantoro
Tangkapan layar Instagram @rianekkypradipta
ILUSTRASI --- Vokalis Dmasiv Rian Ekky Pradipta menerobos banjir di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. 

Kelompok orang stress tersebut kiranya memperlihatkan cara Berpikir sumir, simplistis, apriori serta segmentaris. Boleh jadi pula tuntunan dan standar Universal Berkomunikasi tsb di atas dapat berlaku dalam situasi lain.

Semisal jelang Pesta Demokrasi baik skala Nasional maupun Lokal atawa super Lokal. Sebab orang culas itu ada di mana-mana.

Banjir Rob di Desa Eretan Kulon Indramayu Bukan Kali Pertama, Harus Ada Perbaikan Breakwater Segera

Tragisnya atau parahnya, kadang mereka tidak tahu mana hal yang Haq dan yang Batil secara Otentik atau Halal dan Haramnya sesuatu secara Syar'i.

Di atas juga disinggung tentang pentingnya Cinta dalam Berkomunikasi dan Berinteraksi Antar Sesama. Sebabnya adalah karena Cinta merupakan ikatan atau esensi atau energi Dahsyat dalam membangun Persahabatan, Kerjasama dan Kebersamaan. Lawan dari Cinta adalah Kebencian.

Nah, para Penyinyir sejati atau Pengumpat Sejati itu sudah kehilangan nalar sehatnya. Yang ada adalah makar atau berbuat jahat dan dusta atau lalim.

Mereka sudah kehilangan Kearifannya atau Al-Hikmah. Kearifan adalah titik tengah di antara bodoh (Al-Safh) dan dungu (Al-Balh). Yang dimaksud Kebodohan di sini menurut Pemikir Islam Ibn Miskawaih, adalah menggunakan Fakultas Berpikir pada suatu yang tidak baik.

"Manusia semacam ini adalah terkutuk. Sedangkan yang dimaksudkan dengan dungu di sini adalah sengaja menyingkirkan Fakultas Berpikirnya, " tukas Filsuf Moral tersebut. Saya termasuk yang setuju dengan pandangan Miskawaih yang lugas ini. **

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved