OPINI

Banjir, Nyinyir, dan Aroma Kebencian

Allah katakan dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat bahwa boleh jadi orang yang dinista itu lebih baik dari orang yang menista.

Banjir, Nyinyir, dan Aroma Kebencian
Tangkapan layar Instagram @rianekkypradipta
ILUSTRASI --- Vokalis Dmasiv Rian Ekky Pradipta menerobos banjir di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. 

Oleh Dindin M Machfudz

Jurnalis Senior, Praktisi Komunikasi, Penulis Buku "From Astra To Baitullah"

JAUH sebelum abad Masehi sekarang, Filsuf Aristoteles dari Yunani sudah merumuskan bahwa syarat Suksesnya seorang Orator atau Komunikator dalam mempengaruhi Khalayaknya atau Komunikan ada tiga faktor, yaitu :

1. Ethos atau Etika
2. Logos atau Rasional
3. Pathos atau segi Emosionalnya.

Berdasarkan rumusan tersebut, toh, masih saja banyak orang mengabaikannya. Sehingga pesan Komunikasinya gagal atau berbalik arah menjadi negatif kepada dirinya sendiri. Menjadi Negative Feedback atau Negative Effect. Boro-boro mendatangkan Empati atau Simpati di Hati Khalayaknya.

Terlebih Cinta dan Support dari Khalayaknya. Yang terjadi justru Kebencian Massal terhadap dirinya sang Orator atau Penyinyir tadi. Seakan dia sedang membangun Istana Kebencian Massal dan Masif kepada dirinya. Dan kalau Khalayak sudah Antipati demikian, tak ada lagi Amunisi utk Positive Image yang bisa dibangun atau direkonstruksi di kalangan masyarakat Khalayak.

Banjir Besar di Awal Tahun 2020, Sejumlah Warga Jakarta Akan Menggugat Pemprov DKI Jakarta

Ringkasnya, kebencian akan melahirkan kebencian kuadrat. Contoh apa Yang dilakukan oleh netizen anti Gubernur Anies Baswedan semisal Ade Armando, Abu Sanda, Ruhut yang pro-Ahok, atau Juru Bicara bernama Ngabalin.

Boro-boro Bersimpati atawa mengubah Public Opinion atawa mengubah Sikap dan Attitude Khalayak agar turut membenci Gubernur Anies.

Yang Ada justru Resistensi atau Daya Tolak Masyarakat yang semakin kuat. Secara Public Relations, Provokator atau PR Officer atau PR Manager jenis tersebut di atas praktis sudah Gagal total alias Ambyar.

Lah, Lihat wajahnya saja orang sudah empet, sudah nggak Sudi. Sebab dari rona wajahnya sudah mengisyaratkan orang yang culas, pongah, penyinyir, pengumpat, tidak kredibel, tidak bermartabat, nihil Integritas.

Halaman
1234
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved