Kisah Inspiratif

Merasa Dibuang Sekolah hingga Ibu Dihina, Anak Sopir Ini Buktikan Tembus ITB hingga Lulus IPK 3,98

Seorang anak sopir ini, Muhammad Reza Nurrahman (22) berhasil membuktikan cercaan yang pernah didapatkannya sehingga menjadi motivasi baginya.

Editor: Hilda Rubiah
(KOMPAS.com/RENI SUSANTI)
Muhammad Reza Nurrahman (22 tahun) lulus dari Fisika ITB dengan IPK 3,98 

“Saya tidak bisa fokus, sehingga akhirnya hanya duduk di urutan 9 dan yang masuk ke tahap selanjutnya 8 besar,” ungkapnya.

Sekembalinya ke Bandung Barat, ia memilih untuk pindah sekolah ke SMA Darul Falah.

Di luar dugaan, SMA tersebut memberikan beasiswa full termasuk seragam dan lainnya.

Reza pun menjadi lulusan pertama SMA Darul Falah yang tembus ITB.

Masa kuliah

Memasuki ITB yang merupakan impiannya sejak SMP tentu membuatnya bahagia.

Ia kemudian mengajukan beasiswa dan namanya sempat tidak ada di Bidikmisi.

“Saat wawancara, pewawancara nanya, ibunya kerja? Saat dijawab ibu rumah tangga, yang mewawancara bilang kenapa nggak (kerja), bukannya bantuin bapaknya kerja, malah diem aja di rumah. Sakit hati banget (dengarnya),” ucapnya.

Saat melihat namanya tak ada, ia mempertanyaan kriteria penerima Beasiswa Bidikmisi kepada dosen wali.

Daftar Tempat yang Selenggarakan Perayaan Tahun Baru 2020 di Jawa Barat, dari Bandung hingga Garut

Pada saat yang sama, ia mengajukan beasiswa ke Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Saat mendapatkan beasiswa KBB, Reza dinyatakan lolos beasiswa Bidikmisi.

Ia kemudian diminta untuk melepaskan beasiswa KBB.

Uang Rp 5.000

Sebagai mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, anak kedua dari tiga bersaudara ini berkesempatan untuk tinggal di asrama.

Namun baru 3 jam di asrama, ia memutuskan untuk kembali ke rumah, yang menurutnya lebih nyaman.

Untuk pulang-pergi ke kampus, ia menggunakan motor bebek Honda Legenda.

Tak lupa ia membawa bekal makanan agar tidak jajan di kampus.

“Pengeluaran Reza per hari Rp 5.000 untuk bensin saja. Reza nggak pernah jajan dan nggak suka nongkrong. Habis kuliah dan kegiatan organisasi, Reza langsung pulang ke rumah,” ungkapnya.

Uang saku dari Bidikmisi sebesar Rp 950.000 per bulan ia tabungkan.

Untuk kebutuhan kuliah dan lainnya, ia mengandalkan hasil mengajar di lembaga olimpiade dengan honor Rp 125.000 per jam.

“Karena pernah dapat perak OSN, jadi diminta untuk mengajar. Karena (OSN) musiman, jadi mengajarnya pun musiman,” ucapnya.

Dari honor mengajar ini, ia bisa membantu orangtuanya.

Sedangkan tabungannya digunakan untuk keperluan keluarga lainnya termasuk persiapan untuk menikah.

Sketsa Wajah Penyerang Novel Baswedan Dinilai Janggal, Mahfud MD Tanggapi Begini

Sumber: Kompas
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved