Wakasek Meninggal di Sekolah

Wakasek di Garut Meninggal Gara-gara Isi E-Rapor, Ketua Komisi X DPR RI : E-Rapor Harus Dievaluasi

Meninggalnya Yusuf (58), Wakil Kepala Sekolah SMPN 2 Pangatikan, Kabupaten Garut, saat tengah mengisi e-rapor

Tribunjabar/Cipta Permana
Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda menjelaskan paparannya dalam kegiatan Refleksi Akhir Tahun Bidang Pendidikan di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Selasa (17/12/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Meninggalnya Yusuf (58), Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) SMPN 2 Pangatikan, Kabupaten Garut, saat tengah mengisi e-rapor, Selasa (17/12/2019), tidak hanya membuat gempar bagi orang-orang yang mengenalnya, tetapi juga pihak-pihak yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan.

Seperti halnya, Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda, yang turut menyampaikan duka cita bagi almarhum dan keluarga dari salah satu pahlawan tanpa tanda jasa di Kabupaten Garut tersebut.

Menurutnya, adanya e-rapor yang seharusnya dapat meringankan beban dari para pendidik dan tenaga kependidikan, namun bila kurangnya pemahaman terkait pengoperasiannya, akan menjadi persoalan baru bagi petugas atau operator pihak sekolah.

"Pertama saya sampaikan duka cita terhadap almarhum dan keluarga yang ditinggalkannya. Hadirnya e-rapor sebenarnya merupakan bagian dari kemajuan perkembangan teknologi di bidang pendidikan. Tapi kalau ternyata menyusahkan, karena kurangnya sosialiasi, maka perlu dievaluasi," ujarnya seusai menjadi seorang pemateri dalam kegiatan Refleksi Akhir Tahun Bidang Pendidikan di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung, Selasa (17/12/2019).

700 Personel Gabungan Siap Amankan Natal dan Tahun Baru di Wilayah Hukum Polres Cirebon Kota

Syaiful Huda menuturkan, pihaknya akan mencoba berkomunikasi dengan Kemendikbud terkait hal tersebut. Oleh karena itu, ia akan melakukan evaluasi terhadap fungsi dan efektivitas dari aplikasi tersebut.

"Maka prinsipnya semua hal yang sifatnya administratif dan itu membebani guru, maka akan kami hapuskan. Upaya penyederhanaan telah kami mulai dari RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran), dari 13 poin yang harus diisi oleh para guru jadi hanya satu lembar saja. Hal itu sudah diumumkan dan tinggal jalan (pelaksanaan) saja, nanti akan kami evaluasi lagi poin lainnya yang dinilai tidak perlu," kata Syaiful Huda.

Robert Alberts Sebut I Made Wirawan Seperti Gianluigi Buffon, Ternyata Begini Maksudnya

Penulis: Cipta Permana
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved