Begini Analisis Bupati Bandung tentang Banjir Bandang di Kertasari

Tiga hari lalu terjadi banjir bandang di Kertasari, Kabupaten Bandung, yang memiliki wilayah berbukit atau pegunungan.

Begini Analisis Bupati Bandung tentang Banjir Bandang di Kertasari
istimewa/tangkapan layar video
Sebuah motor hanyut saat banjir bandang melanda kawasan Kertasari, Kabupaten Bandung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Lutfi Ahmad Mauludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tiga hari lalu terjadi banjir bandang di Kertasari, Kabupaten Bandung, yang memiliki wilayah berbukit atau pegunungan.

Menurut Bupati Bandung, Dadang M Naser bencana banjir bandang di Kertasari karena pola yang salah dalam bercocok tanam di ketinggian.

"Saya tidak menyalahkan tapi di sini ada yang salah, ada salah urus tentang pola tanam, dalam pola tanam harusnya ada sabuk gunung (sengkedan)," ujar Dadang, di Mapolresta Bandung, Soreang, Senin (9/12/2019).

Menurut Dadang, sabuk gunung bukan hanya sabuk gunung, tapi harus ada tanamannya, seperti Kiandra, Rumput Gajah, Kopi, dan tanaman keras lainnya.

Jalur Rel Cibatu-Garut Diujicoba Januari 2020, Begini Perkembangan Jalur Rel Banjar-Pangandaran

"Kopi kan bisa dipendekkan, saya ngerti petani takut tanamannya kekurangan cahaya matahari, sehingga pohon tinggi pasti ditebang. Ini bisa dibonsai, seperti kopi dipendekin ketinggiannya 1-2 meter, kaliandra juga bisa," kata Dadang.

Dadang menekankan, kepada petani di Kertasari jangan pelit terhadap pola tanam.

"Masa di ujung gawir (tanah kemiringan curam), galengan, masih ditanam bawang. itu kasih space 1-2 meter untuk tanaman keras, penahan longsor. Nantinya yang rugi petani sendiri dan nanti kami susah juga, Pemda diminta tolong untuk mengirim beko dan lainnya, berapa biayanya operasional ke sana," ujar dia.

Maka, kata Dadang, tidak dibenarkan pola tanam yang salah, hentikan pola tanam yang salah.

Akhir Kisah Perselingkuhan 7 Tahun, Tukang Pijat di Gresik Dibunuh Kekasih, Berawal Minta Uang

"Di petak yang diatas itu (lahan) perhutani, ini di puncak gunung masih ditanami sayur mayur. Itu di ketinggian," ucap Dadang.

Dadang mengatakan, di tanah yang memiliki kemiringan 40 derajat ke atas, harusnya dilakukan tumpang sarinya dengan pohon kopi, tegakannya harus ada.

"Jangan sampai di kemiringan 40 derajat masih ada sayur mayur, di 30 derajat saja sudah rawan meski pakai sengkedan sabuk gunung, ke bawahnya baru tanpa sengkedan. ini yang harus disosialisasikan secara utuh kepada seluruh masyarakat yang bertani di ketinggian, baik di utara maupun di selatan," tuturnya.

Dadang mengaku, sosialisasi hal tersebut akan dilakukan pihaknya terus menerus, itu sudah diberi contoh oleh Satgas Citarum, dan ada beberapa masyarakat yang taat menggunakan sabuk gunung.

"Memang ada biaya tambahan tapi itulah kearifan, artinya pakai wawasan lingkungan, dengan memperhatikan lingkungan," ucapnya.

Penulis: Lutfi Ahmad Mauludin
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved