Nelangsa, Pengemudi Ojek Online Asal Cimahi Ini Tertipu Pembelian Rumah Bersubsidi di Padalarang

Iwan Saiman Gumiwang (43) seorang pengemudi ojek online harus mengubur impiannya untuk memiliki rumah setelah

Tribunjabar/Hilman Kamaludin
Iwan Saiman Gumiwang saat menunjukan brosur rumah bersubsidi. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, PADALARANG - Iwan Saiman Gumiwang (43) seorang pengemudi ojek online harus mengubur impiannya untuk memiliki rumah setelah tertipu adanya penjualan rumah bersubsidi yang akan dibangun di Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Awalnya, pria yang saat ini mengontrak di Jalan Cibaligo RT 02/29, Kelurahan Cibeureum, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi itu memutuskan untuk mencicil rumah, setelah mendapatkan informasi penjualan rumah bersubsidi dengan harga terjangkau pada tahun 2016.

"Dulu saya bisnis boneka, tapi karena saat ini usahanya sepi, jadi beralih jadi ojek online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terkait pembelian rumah bersubsudi saya tahu dari internet," ujar Iwan saat ditemui di kontrakannya, Senin (2/12/2019).

Setelah mengetahui informasi tersebut, Iwan langsung mendatangi kantor pemasaran yang ada di daerah Cimareme, Kecamatan Ngamprah, KBB dan bertemu dengan marketing yang menjelaskan terkait keunggulan perumahan tersebut.

SEDANG TAYANG, LINK LIVE STREAMING TV ONLINE Semen Padang vs Bali United, Bali Menang Pesta Juara

"Saya dikasih penjelasan, bahwa ini rumah subsidi tapi ada program peningkatan mutu, makanya dari situ saya tertarik, lalu saya menanyakan ke absahan tanah (kavling) dan mereka menjawab sertifikatnya lagi diurus," katanya.

Selain itu, marketing perumahan Parahyangan Hill Recidence itu juga memberikan rekam jejak bahwa sudah ada beberapa perumahan di KBB yang sudah selesai dibangun oleh perusahaan tersebut.

Kemudian, marketing itu menyarankan agar Iwan harus cepat booking dan memberikan DP dengan alasan sudah ada beberapa unit rumah yang sudah di booking orang lain, sehingga stoknya terbatas.

"Dari sana pembicaraannya manis dan dia bilang bulan November sudah naik harga. Lalu saya membayar cicilan pertama," ucapnya.

Untuk membeli rumah tersebut, Iwan sudah membayar booking fee Rp 1 juta, uang muka Rp 6 juta, dan cicilan pertama Rp 11 juta, sedangkan untuk selanjutnya ia membayar cicilan Rp 3,3 juta per bulan untuk 24 kali cicilan.

"Saya sudah membayar cicilan selama 20 bulan dengan total cicilan yang sudah saya bayar sebesar Rp 74.983.044, kalau pembangunannya gak jelas saya minta uang saya kembali," kata Iwan.

Kisah Sedih di Balik Medali Emas Anak Banjaran di SEA Games 2019, Tanding saat Bapak Dioperasi

Sedangkan untuk rumah tipe 36/72 standar tersebut, kata Iwan, dipatok dengan harga Rp 114 juta ditambah uang muka Rp 6 juta dan peningkatan mutu Rp 82 juta, sehingga totalnya Rp 202 juta.

Kecurigaan adanya penipuan ini, terbongkar setelah adanya perjanjian bahwa rumah akan dibangun setelah cicilan satu tahun, namun hingga saat ini pembangunan pun tak kunjung dilakukan dan kondisi tanah kavling juga belum

"Saya bayar cicilan langsung ke kantor pemasaran, sambil menanyakan pembangunan, tapi mereka beralasan belum dibangun karena masih musim hujan. Bahkan saat ini kantornya sudah kosong dan karyawan yang dulu sudah resign" katanya.

Bahakan, kata dia, saat dicek ke lokasi pembangunan perumahan tersebut, hingga saat ini kondisinya masih berupa lahan kosong yang belum digarap dan pematangan lahan juga tak kunjung dilakukan.

Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved