Babak Baru Kasus Meikarta, Laporan Bartholomeus Toto di Polrestabes Bandung Jadi Penyidikan

Penyidik Satreskrim Polrestabes Bandung sudah meningkatkan status penyelidikan menjadi penyidikan atas laporan

Babak Baru Kasus Meikarta, Laporan Bartholomeus Toto di Polrestabes Bandung Jadi Penyidikan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Toto Bartholomeus meninggalkan gedung KPK setelah pemeriksaan di Jakarta, Kamis (25/10/2018). Ia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Billy Sindoro terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi pemberian hadiah atau janji pengurusan proyek pembangunan Meikarta di Pemerintahan Kabupaten Bekasi. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penyidik Satreskrim Polrestabes Bandung sudah meningkatkan status penyelidikan menjadi penyidikan atas laporan mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang, Bartholomeus Toto terhadap anak buahnya, Edy Dwi Soesianto.

Berdasarkan surat laporan hasil pekembangan penyelidikan, penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup untuk meningkatkan status kasus itu menjadi penyidikan.

"Laporan saudara Bartholomeus Toto kami proses. Dari penyelidikan, statusnya kami tingkatkan jadi penyidikan," ujar Wakasatreskrim Polrestabes Bandung, Kompol Suparma di Jalan Jawa, Kamis (28/11/2019).

Bartholomeus Toto adalah mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang. Perusahaan itu, bekerja sama dengan perusahaan asal China, mengembangkan proyek Meikarta di Cikarang, Kabupaten Bekasi.

KPK mengungkap praktik suap dalam perizinan proyek itu. Sembilan orang, baik penerima maupun pemberi suap sudah diputus bersalah Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Bandung.

Karen Idol Mengaku Sudah Laporkan Suaminya ke Polrestabes Bandung

Di persidangan, Edy Dwi Soesianto saat jadi saksi, menyebut menerima uang Rp 10,5 miliar‎ dari Toto via sekretarisnya, Melda Peni Lestari.

Uang tersebut diberikan Edy Dwi Soesianto ke E Yusuf Taufik, ajudan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin untuk memperlancar keluarnya izin perintukan dan penggunaan tanah (IPPT).

Atas kesaksian Edy itu, Toto ditetapkan tersangka oleh KPK. ‎Penetapan tersangka Bartholomeus Toto ini merupakan pengembangan kasus suap Meikarta yang sebelumnya telah menyeret sejumlah pihak ke penjara. Yakni Billy Sindoro, Fitradjaja Purnama, Henry Jasmen dan Taryudi sebagai pemberi uang suap.

Lalu dari penerima suap, juga sudah menyeret sejumlah pejabat di Pemkab Bekasi ke penjara. Yakni Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, Kadis PUPR Jamaludin, Kadis Damkar Sahat Maju Banjarnahor, Kabid Tata Ruang Dinas PUPR Neneng Rahmi dan Kepala BPMPTSP Dewi Kaniawati.

Selain Toto, pengembangan kasus ini juga menyeret Sekda Jabar Iwa Karniwa yang disangka menerima uang Rp 900 juta terkait pengurusan persetujuan substantif Pemprov Jabar atas Raperda RDTR Pemkab Bekasi yang mengakomodir Meikarta.

Musim Hujan Tiba, BPBD Kabupaten Tasikmalaya Imbau Warga Waspadai Potensi Longsor dan Banjir

Pekan lalu, Toto ditahan. Atas penetapan dan penahanannya itu, Toto melalui kuasa hukumnya, Supriyadi mengajukan pra peradilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

"Berkas gugatan pra peradilan sudah kami daftarkan ke PN Jaksel dan sudah diterima. Dasar pra peradilan, Pak Toto ini ditetapkan tersangka tanpa memenuhi dua alat bukti. Padahal, sesuai aturan, penetapan tersangka harus berdasarkan dua alat bukti," ujarnya.

Alat bukti dimaksud, yakni kesaksian Edy Dwi Soesianto di persidangan.

"Tapi kesaksian Edy Dwi Soesianto ini tidak didukung alat bukti lainnya," ujar Supriyadi.

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved