Era 4.O, Oleh Soleh Ajak Guru Miliki Paradigma Milenial

Menanggapi Hari Guru Nasional yang jatuh pada hari ini Senin 25 November, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat

Era 4.O, Oleh Soleh Ajak Guru Miliki Paradigma Milenial
istimewa
Oleh Soleh (kanan) jas biru 

TRIBUNJABAR.ID - Menanggapi Hari Guru Nasional yang jatuh pada hari ini Senin 25 November,  Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat H Oleh Soleh mengatakan, maju tidaknya sebuah bangsa dimulai dari guru. Untuk itu menghadapi tantangan Era 4.0, ia berpesan agar guru memiliki paradigma milenial.

Tidak hanya itu, di hari guru ini Oleh Soleh juga mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada para guru atas pengabdiannya. Ia juga meminta pemerintah lebih memerhatikan kesejahteraan para guru, terutama guru honorer.

"Kemajuan sebuah bangsa dan negara kuncinya ada di guru. SDM unggul menuju Indonesia maju, salah satu pilarnya adalah guru. Untuk itu kesejahteraan guru itu penting, khususnya untuk para guru honorer" ujarnya, Senin (25/11).

Menurut Oleh Soleh yang juga politikus dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), guru bukan hanya soal memberi pelajaran, tapi juga sumber spirit bagi muridnya.

Guru Honorer di Indramayu Punya Penghasilan Rp 4-6 Juta per Bulan, Ternyata Ini Rahasianya

Selain itu juga penting menekankan pengembangan skill bagi para siswa. Untuk itu, ia mengimbau para guru terus membuat terobosan-terobosan yang signifikan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

"Tanpa skill masa depan, manusia bisa di-grounded. Itulah kenapa reskilling menjadi kritis dan penting saat ini. Sebab, dua tahun yang akan datang penggunaan mesin sudah 42 persen. Tahun 2025 penggunaan mesin sudah 52 persen," ujarnya.

Oleh berpesan kepada para guru agar memiliki paradigma milenial. Bagi Oleh, ada dua hal yang perlu disikapi guru.

Pertama adalah globalisasi, hal ini membuat manusia merasa seolah tanpa batas. Hal ini pun berbanding lurus dengan kaburnya batas nilai dan budaya.

Menurut Oleh, tak hanya membawa paham yang bertolak belakang dengan nilai ke-Indonesiaan, juga bisa bertolak belakang dengan pemahaman agama.

"Bila tidak diwaspadai, itu semua akan merusak tatanan kehidupan dan nilai-nilai yang kita anut," ujarnya.

Kedua, majunya arus teknologi atau era 4.O. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai inovasi perangkat yang berbasis artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Terlihat dari anak didik masa kini yang tak bisa dilepaskan dari perangkat digital virtual dari hidupnya.

Pria yang Diselamatkan Tim SAR Bandung di Tengah Danau, Sebelumnya Ceburkan Diri Saat Dikejar Warga

Untuk itu, lanjaut Oleh, fenomena ini menjadi tantangan nyata bagi dunia pendidikan. Guru mau tidak mau dituntut untuk lebih memerhatikan itu dan penguatan yang lebih pentingnya adalah penguatan pendidikan agama.

"Guru harus dapat meneguhkan posisi anak didik agar tetap berada dalam jatidiri bangsa Indonesia yang relijius dan agamis," katanya.

Jika dilihat dari dunia pendidikan, era ini memiliki dampak positif. Namun hal ini juga bisa menyebabkan dehumanisasi atau ketercerabutan sisi kemanusiaan dari diri bangsa.

"Di hari guru ini saya berpesan agar para pendidik tak lupa memperkenalkan ilmu agama kepada muridnya agar dapat memilah dampak positif dan negatif dari tantangan globalisasi dan era kecepatan teknologi, begitupun dengan negara berkewajiban untuk memperbaiki kesejahteraan pendidik," katanya.

Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved