6 Hektare Lahan Pertanian Garam di Krangkeng Indramayu Dibiarkan Rusak Terbengkalai

Lahan para petani garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu dibiarkan terbengkalai dan rusak.

6 Hektare Lahan Pertanian Garam di Krangkeng Indramayu Dibiarkan Rusak Terbengkalai
Tribun Jabar/Handhika Rahman
Lahan pertanian garam yang dibiarkan terbengkalai dan rusak di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Minggu (24/11/2019). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU - Lahan para petani garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu dibiarkan terbengkalai dan rusak.

Seorang petani garam, Prima (29) mengatakan, ada sekitar 6 hektare lahan yang ditinggal begitu saja oleh para pemiliknya.

"Saya juga tidak kenal milik siapa, tapi dengar-dengarnya itu karena harga garam yang terus anjlok," ujar dia saat ditemui di sela-sela aktivitas menggarap garam, Minggu (24/11/2019).

Pantauan Tribuncirebon.com di lokasi, lahan seluas 6 hektare itu tampak terbengkalai dan terkesan usang.

Petani Garam di Indramayu Sebut Harga Garam Tahun Ini Terburuk Sepanjang Sejarah, Seperti Kerja Rodi

Petani garam saat mengolah garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Selasa (17/9/2019).
Petani garam saat mengolah garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Selasa (17/9/2019). (tribunjabar/Handhika Rahman)

Garam-garam pada lahan yang seharusnya siap dipanen justru sekarang kondisinya rusak.

Garam-garam itu dibiarkan tanpa diolah hingga mengering dan menyatu dengan tanah maupun alas plastik.

Sementara kondisi lumbung penyimpanan garam sementara yang berada di sisi lahan kondisinya juga tidak kalah rusak.

Banyak bagian dari lumbung itu hancur dan berserakan di sekitaran lahan.

"Saya tidak tahu pastinya karena apa, tapi mulai ditinggalkan semenjak harga anjlok lagi, tapi ada juga yang bilang karena air mengering, kemungkinan sih karena harga anjlok," ucapnya.

Adapun selama menyusuri puluhan hektare lahan garam yang berada di Desa Krangkeng, sangat sulit ditemukan adanya aktivitas para petani garam.

Banyak dari lahan-lahan garam di Desa setempat memilih berhenti memproduksi garam.

Kini lahan-lahan yang biasanya dipenuhi aktivitas para petani itu hanya menyisakan lahan kosong yang kering beralas tanah.

Sementara plastik atau geomembran yang biasa digunakan petani sebagai alas produksi garam sudah dicopot para pemiliknya.

Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved