Breaking News:

Bermodal Awal Rp 1,5 Juta, Kini Mojang Bandung Ini Punya Distributor di 25 Kota Lewat Dorokdokucu

Belum pernah terpikirkan sebelumnya di benak Ulfah Nurfebrianti, di usianya ke-25, mojang Bandung ini sukses rintis usaha camilan tradisional dorokdok

Istimewa
Bermodalkan uang pinjaman dari orang tua, Dorokdokucu kin sudah membuka distributor di 25 kota di Indonesia. 

“Terakhir ketemu mungkin 10 tahun yang lalu, tapi dengan dorokdok ini jadi ketemu lagi.”

Pasar dari Dorokdokcu sendiri memang fokus di media online sehingga koneksinya lebih luas.

Dalam sehari, 30-50 pengiriman dorokdok (80%) menggunakan layanan GrabExpress. Ucu mengaku layanan ini cepat, mudah dan aman.

“Kita tinggal masukin titik penjemputan dan titik yang dituju, terus mitra kurirnya datangnya cepat, pokoknya membantu banget untuk bisnis. Saya juga paling suka dengan fitur pelacakan langsung dan bukti pengiriman. Jadi saya tinggal kirim tautan pengiriman ke pelanggan dan kita bisa sama-sama tahu kurir sudah ada dimana. Saat pengambilan dan pengantaran barang, kurir juga akan ambil foto barang dan akan dikirimkan kepada kami setelah pengiriman selesai. Jadi lebih aman pastinya,” ujar Ucu.

Selain itu, ada juga fitur pengiriman langsung ke tiga titik antar. “Jadi saya tidak usah pesan berkali-kali. Cukup satu kali pesan, mitra kurir bisa kirim ke tiga alamat berbeda. Hemat waktu banget!”

Ucu menambahkan, banyak juga pengemudi Grab yang penasaran karena sering jemput dan kirim barang dari Dorokdokcu. Akhirnya, mereka memutuskan menjadi reseller.

“Banyak mitra pengemudi bilang, ‘alhamdulillah banget setelah jualan ini jadi ngebantu. Istri yang tadinya di rumah enggak ada kerjaan jadi bisa jualan, ada kerjaan’,” ujar Ucu menirukan.

“Terus yang paling haru, reseller itu kan bukan hanya teman kita. Ada stranger, terus datang, dan jadi reseller. Setelah bergabung, mereka bilang, ‘Makasih ya, karena jualan dorokdok, rezekinya jadi bla bla bla, nambah tabungan anak, terus mereka mendoakan kami, semoga rezekinya tambah terus ya, sudah membuka jalan rezeki untuk banyak orang’,” tambah Ucu.

“Hal itu membuat kami mengerti bahwa bisnis itu bukan sekadar mengejar materi, tapi bisa bermanfaat untuk orang lainnya. Itu yang membuat senang dan tenang. Apalagi ketika mendapatkan doa dari mereka,” tutur Ucu.

Tidak hanya di perkotaan, di kampung tempat dorokdok dibuat, Dorokdokcu pun berdampak positif terhadap ekonomi warga setempat.

“Yang tadinya hanya beberapa karyawan, produksinya bertambah, pengiriman luar kota bertambah, otomatis banyak pekerja yang baru. Alhamdulillah, bukan kami yang hebat, Allah yang memudahkan semuanya. Saat kami main ke pabrik, kalau kami datang, karyawan-karyawan yang mayoritas ibu-ibu begitu antusiasnya dan berterima kasih. Itu yang bagi kami adalah nilai dari usaha ini,” ucap Ucu.

Ke depan, Ucu dan Lutfi berencana mengembangkan usahanya jadi go internasional dan membangun rumah Tahfiz Alquran.

Ucu dan Lutfi adalah satu dari 5 juta wirausahawan mikro yang mampu mengembangkan usahanya setelah tergabung dalam platform Grab di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian Riset Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics di tahun 2018, mitra merchant yang bergabung dengan GrabFood rata-rata melihat peningkatan penjualan sebesar 25% dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp11 juta/bulan.

Khusus di kota Bandung, data menunjukkan Grab berkontribusi sebesar Rp 10,1 triliun pada tahun 2018. Kontribusi terbesar dihasilkan oleh GrabBike dengan nilai Rp 4,59 triliun, yang selanjutnya disusul oleh GrabFood dengan nilai kontribusi sebesar Rp 3,76 triliun. GrabBike dan GrabCar juga berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja di Kota Bandung. Sebelum bermitra dengan Grab, 38% mitra GrabBike, dan 39% mitra GrabCar tidak memiliki sumber penghasilan sama sekali.

Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved