Minggu, 7 Juni 2026

Ada ASN yang Terindikasi Masuk Jaringan Teroris di Medan, Begini Kata BNPT

Pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap aparatur sipil negara (ASN) dari BUMN yang dindikasi masuk ke dalam jaringan teroris di Medan.

Tayang:
Editor: Yongky Yulius
Ilustrasi PNS 

TRIBUNJABAR.ID - Deputi Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap aparatur sipil negara (ASN) dari BUMN yang dindikasi masuk ke dalam jaringan teroris di Medan.

Irfan berujar kasus ASN masuk ke dalam jaringan terorisme merupakan fenomena baru, sehingga perlu adanya koordinasi dari beberapa pihak terkait indikasi tersebut.

"Ini merupakan fenomena baru terjaringnya ASN ke dalam sebuah aksi-aksi teror. Kita harus melakukan koordinasi secara ketat dengan nantinya dengan kementerian-kementerian terkait," ujarnya, Sabtu (16/11/2019) di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Terkait adanya pengaduan, deputi BNPT tersebut mengatakan kepala BNPT akan melakukan upaya secara masif dan melakukan koordinasi dengan sejumlah kementerian untuk memberikan wawasan kebangsaan pada calon ASN nantinya.

Kepala BNPT akan mendatangi menteri-menteri dari sejumlah kementerian untuk memberikan materi nuansa kebangsaan, resonansi kebangsaan tentang bahaya radikalisme bagi calon ASN, termasuk yang ada di BUMN.

"Saya kira sudah sejak tahun lalu, bahkan di kampus-kampus pak Kepala BNPT datang untuk memberi resonansi kebangsaan," ujarnya.

BREAKING NEWS, Dua Teroris Ditembak Mati, Begini Kata Kapolda

Irfan Idris berujar, memberikan resonansi kebangsaan tidak cukup dilakukan satu kali dan perlu adanya perhatian dari pimpinan.

"Bahkan harus memasukan sebuah program pemantauan, monitoring, pembinaan, pembentukan bahkan kalau perlu kita buka bentuk pusat radikalisasi atau pusat wawasan modernisasi beragama di setiap kampus" ujarnya.

Ia juga mengatakan agar jangan selalu mengalamatkan anarkisme kepada salah satu agama.

"Jangan selalu di mengalamatkan anarkisme kepada salah satu agama, karena tidak ada satupun agama yang mengajarkan aksi-aksi seperti itu," ujarnya. (TribunNews)

Tergerusnya Nasionalisme

Menkopolhukam Mahfud MD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/11/2019)
Menkopolhukam Mahfud MD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/11/2019) (KOMPAS.com/Haryantipuspasari)

Menkopolhukam Mahfud MD menegaskan tantangan keutuhan bangsa Indonesia adalah saat tergerusnya nasionalisme.

"Saya ingatkan tantangan lain terhadap keutuhan kita sebagai bangsa adalah saat tergerusnya nasionalisme anak muda yang disebabkan terseretnya dunia digital, manakala pemimpin kita tidak memberikan keteladanan dan tuntutan kepada anak muda," ujar Mahfud MD saat jadi pembicara di Bincang Seru Mahfud di Kampus Universitas Padjadjaran (Unpad), Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, Rabu (30/10/2019).

Ia mencontohkan, perilaku politikus yang korup dan suka menipu hingga berbohong. Fakta-fakta itu terjadi di Indonesia.

Seperti diketahui, Presiden RI Pertama, Ir Soekarno jadi peletak dasar nasionalisme Indonesia.

Ia mencetuskan sosio nasionalisme pada 1932 dalam sebuah artikel berjudul Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi.

"‎Anak-anak muda ini punya channel lain di luar negara misalnya. Anak muda yang kreatif mendirikan izin perusahaan oleh penyelenggara di dalam negeri dipungli dan dipersulit. Mereka bisa saja ke Singapura karena banyak di Indonesia, bisnis start up itu listnya di Singapura karena mau list di Indonesia susah," katanya.

Rizieq Shihab Tak Bisa Kembali ke Indonesia, Mahfud MD: Itu Urusan Dia dengan Arab Saudi

‎Selain tergerusnya nasionalisme, ancaman lainnya yang berada di hadapan bangsa ini yakni terorisme dan radikalisme.

Ancaman terorisme bisa jadi lebih melegakan karena seiring tewasnya pimpinan ISIS, Abubakar Al Baghdadi.

"Virus Al Baghdadi itu ada di indonesia. Biang virusnya sekarang sudah meninggal, harus dibersihkan pengaruh kekerasan, pengaruh terorisme dalam menjaga keutuhan Indonesia," kata dia.

Ia juga menyinggung soal ancaman radikalisme.

Kehadirannya di Unpad sekaligus untuk menangkal radikalisme.

"Ingin menyiapkan generasi muda, para mahasiswa untuk menjiwai nilai kebersamaan dan kekokohan kita sebagai bangsa berdasarkan Pancasila," ujar Mahfud. (TribunJabar.id)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved