Kecelakaan Maut di Tol Cipali

Maut Menjemput Setelah Ikut Pilkades, 7 Orang Tewas Gara-gara Sopir Mengantuk

Sambil terus menangis, Rista Ana (40) berkali-kali menyebut adiknya, Kuntarsih (37), salah satu yang saat itu terbaring di kamar jenazah.

Maut Menjemput Setelah Ikut Pilkades, 7 Orang Tewas Gara-gara Sopir Mengantuk
Tribun Jabar/Lutfi AM
Kondisi Bus Sinar Jaya setelah kecelakaan di Tol Cipali, Kantor PTLMS Cilameri Subang, Kamis (14/11/2019) 

TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Tujuh orang tewas dan enam lainnya luka berat saat bus Sinar Jaya B 7949 IS, yang melaju dari arah Jakarta, tiba-tiba melintas jalur dan menabrak bus Arimbi B 7168 CGA yang melaju dari arah yang berlawanan di kilometer 117 Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), Kamis (14/11) dini hari.

Kemarin siang, isak tangis terus terdengar saat satu per satu keluarga korban dipersilakan melihat jenazah keluarganya di ruang pemulasaraan jenazah di RS Ciereng, Kabupaten Subang.

Sebagian hanya menangis sesenggukan dan tak mau melihat ke kamar jenazah.

Sambil terus menangis, Rista Ana (40) berkali-kali menyebut adiknya, Kuntarsih (37), salah satu yang saat itu terbaring di kamar jenazah.

"Adik saya meninggal, tapi saya enggak mau melihat jasadnya," kata Rista.

Saat Rista tiba, jasad adiknya telah dimandikan dan dikafani.

"Saya enggak mau melihat," ulang Rista, yang saat kecelakaan terjadi juga berada di Bus Arimbi bersama adiknya.

Karena Rista tak mau melihat, anggota keluarganya yang lain menggantikannya masuk untuk melihat kondisi Kuntarsih.

Jenazah adiknya, kata Rista, akan mereka bawa hari itu juga ke kampung halaman mereka di Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan.

Kecelakaan terjadi sekitar pukul 00.00. Musliah (42), salah seorang korban selamat, mengatakan, kecelakaan terjadi tak lama setelah bus Arimbi yang ia tumpangi kembali melaju setelah berhenti di sebuah rumah makan.

"Setelah jalan kembali, tidak lama keluar dari rumah makan, tiba-tiba ada bus yang dari arah Jakarta menabrak. Bus itu melaju kencang sekali, keluar jalur," kata Musliah di IGD RSUD Subang.

Akibat tabrakan ini Musliah mengalami luka pada bagian muka dan hidungnya.

"Korban yang mengalami luka kebanyakan terluka di kepala dan kaki," ujar Musliah.

Musliah berangkat dari Pekalongan ditemani anaknya, Wilianto (6), dan sepupunya, Alpin (22).

"Untung ini anak saya tidak apa-apa, tidak luka sedikit pun," ujar Musliah.

Sepupu Musliah, Alpin, mengatakan, sebelum kejadian, ia sempat mendengar ada suara mobil mengerem keras sekali.

"Tiba-tiba terdengar suara pecah kaca, dan muka saya berlumuran darah, saya langsung bawa ini (menunjuk kepada Musliah dan Wilianto) keluar untuk menyelamatkan diri," kata Alpin, yang mengaku tidak sempat menyelamatkan yang lain karena panik.

Muarino (41), suami Musliah, mengatakan, ia langsung berangkat ke Subang saat tahu bus yang ditumpangi istrinya terlibat kecelakaan.

"Saya tidak menyangka jadi begini. Tadinya, istri dan sepupu pulang kampung cuma sehari hanya untuk ikut pilkades," ujar Muarino.

Kampung mereka, kata Muatino, berada di Desa Kedungjaran, Kecamatan, Seragi, Kabupaten Pekalongan.

"Sehari-hari kami tinggal di Jakarta, membuka usaha rumah makan. Untung ini tidak apa-apa," ujar Muarino, sambil mengusap kepala anaknya.

Luka Kepala

Menurut Kasubag Huamas RSUD Subang, M Budi Rahmat, selain tujuh korban meninggal, tabrakan bus di Tol Cipali membuat 20 orang terluka.

"Korban meninggal dunia sudah dimandikan dan dikafani. Enam di antaranya sudah diberangkatkan ke daerah masing-masing," ujar Budi di RSUD, Subang.

Budi mengatakan, sebagian korban meninggal dunia mengalami luka parah di kepala.

"Ada juga yang mengalami patah tulang," ujarnya.

Dari 20 orang yang terluka, kata Budi, tinggal 11 orang yang masih dirawat.

"Semua kondisinya membaik. Tinggal menunggu keluarga sambil kami pastikan apakah sudah bisa pulang (atau tidak), atau berobat jalan. Kini sedang dievaluasi oleh tim dokter RSUD," ujarnya.

Tersangka
Menyusul kecelakaan ini, sopir bus Sinar Jaya, Sanudin (46), warga Desa Kesuben, Kecamatan Lebak Siu, Kabupaten Pekalongan, ditetapkan tersangka.

"Dalam gelar perkara telah terpenuhi dua alat bukti sebagai syarat penetapan tersangka," ujar Kabid Humas Polda Jabar Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko di Bandung, kemarin.

Sanudin selamat dalam peristiwa itu. Ia dirawat di IGD RSUD Ciereng, Subang.Kepalanya terluka.

Kabid Humas mengatakan, kecelakaan diduga akibat kelalaian Sanudin.

Sanudin ditengarai mengantuk saat kecelakaan terjadi.

Sanudin dijerat menggunakan Pasal 310 ayat 2, 3 dan 4 Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya.

Ancaman pidananya maksimal 6 tahun. (mega nugraha/lutfi ahmad mauludin)

Penulis: Lutfi Ahmad Mauludin
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved