Minggu, 10 Mei 2026

Begini Kata Pakar Transportasi ITB tentang Seringnya Kecelakaan Lalu Lintas di Tol Cipali

Musibah kecelakaan yang menimpa dua unit bus, Sinarjaya dengan nomor polisi B 7949 IS dan Arimbi B 7168 CGA di KM 117

Tayang:
Penulis: Cipta Permana | Editor: Ichsan
Istimewa PT LMS
Bus Sinar Jaya dan Arimbi yang terlibat kecelakaan di Tol Cipali. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Musibah kecelakaan yang menimpa dua unit bus, Sinarjaya dengan nomor polisi B 7949 IS dan Arimbi B 7168 CGA di KM 117 Tol Cikampek-Palimanan (Cipali) arah Jakarta, Kamis (14/11/2019) dini hari, mengakibatkan tujuh penumpang tewas dan belasan lainnya luka-luka.

Kecelakaan tersebut diduga diakibatkan oleh human error karena sopir dari salah satu bus mengantuk, sehingga membuat laju kendaraannya berpindah jalur.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Jawa Barat, Ir R. Sony Sulaksono Wibowo MT. PhD menilai, bahwa cukup seringnya jalur tol Cipali menimbulkan kecelakaan fatal dari kendaraan yang melintasinya, disebabkan karena tol yang memiliki panjang 116,75 Km tersebut memiliki kondisi jalan yang lurus mendatar.

"Sejak dibuka atau diresmikan pada Juni 2015 lalu, kendaraan yang melintas di tol Cipali cukup sering mengalami kecelakaan, bahkan baru beberapa bulan setelah di buka, sudah ada kurang lebih 30 kecelakaan yang terjadi. Kalau diamati secara baik-baik data dan pola terjadinya kecelakaan yang terlibat di sana, rata-rata merupakan kendaraan yang biasa melintasi rute dari Jakarta-Cirebon atau arah sebaliknya dan didominasi pada waktu tengah malam menjelang pagi. Sehingga di waktu-waktu tersebut merupakan kondisi rentan seseorang atau pengendara mengalami kelelahan dan mengantuk, terlebih usai mengemudi jarak jauh dalam ritme yang lama" ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon. Kamis (14/11/2019).

Rumah Milik Casidi di Indramayu Porak Poranda Tertimpa Pohon Pete

Dengan kondisi kelelahan dari pengemudi tersebut, lanjutnya ditambah dengan kondisi jalan tol Cipali yang lurus mendatar membuat banyak dimanfaatkan pengemudi untuk terlena melajukan kendaraanya hingga melampaui batas kecepatan maksimal dari aturan yang disarankan di dalam tol tersebut. Akibatnya, kendaraan yang melaju sangat cepat akan lebih sulit dikendalikan.

Sony menuturkan, musibah yang kerap terjadi di Tol Cipali mengingatkannya pada kondisi di Tol Cikampek saat awal-awal dibuka, dimana tol tersebut merupakan akses jalur bebas hambatan atau gerbang masuk utama yang mehubungkan beragam kendaraan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah menuju Jakarta, sehingga kecelakaan didominasi oleh kelelahan dari para pengemudi tersebut.

"Waktu itu kondisi yang sama terjadi saat awal-awal Tol Cikampek di buka, selain kendaraan pribadi dan bus, tapi juga didominasi oleh truk-truk yang bermuatan sayuran dan lainnya dari berbagai daerah, yang harus tiba di pasar-pasar induk di Jakarta pada dini hari atau sebelum waktu subuh. Karena mengemudi perjalanan jauh dan kondisi jalan yang sama seperti Tol Cipali, akibatnya banyak terjadi kecelakaan di sana," ucapnya.

Hasil Pertandingan Persebaya Surbaya vs PSM Makassar, Persebaya Pulang Bawa Kemenangan

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa potensi terbesar terjadinya kecelakaan diakibatkan oleh kelelahan pengemudi, dan muncul lah sebuah kebijakan untuk membuat tempat istirahat sementara atau rest area. Hal ini lah, menurutnya yang tidak dimiliki oleh Tol Cipali yaitu, kurangnya sarana rest area yang menjadi upaya preventif guna mengurangi terjadinya kecelakaan.

"Yang saya lihat, bahwa di Tol Cipali itu, jumlah rest area masih sangat kurang jika dibandingkan dengan panjang akses tol. Akibatnya pengemudi yang sudah merasa kelelahan kerap kebingungan untuk mencari tempat beristirahat sejenak, akhirnya memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan, dan terjadilah kecelakaan," ujar Sony.

Sony menambahkan, meskipun nantinya pemerintah melakukan penambahan jumlah rest area, jangan sampai menjadi salah fungsi, seperti yang terjadi di rest area Tol Cikampek atau Cipularang, dimana kini rest area berubah fungsi menjadi pusat kuliner dan oleh-oleh, sehingga banyak kendaraan yang singgah bukan karena mengistirahatkan pengendaranya melainkan berburu kuliner maupun oleh-oleh yang menyebabkan arus lalu lintas di sana macet.

Hasil Pertandingan Persebaya Surbaya vs PSM Makassar, Persebaya Pulang Bawa Kemenangan

"Yang namanya rest area itu, harus benar-benar menjadi tempat beristirahat dari sang pengemudi apapun. Oleh karena itu saya mengimbau agar para pengendara benar-benar istirahat dan tidak memaksakan diri mengemudi, karena rata-rata batas daya tahan tubuh pengemudi itu idealnya hanya 2-3 jam atau empat jam bila dipaksakan untuk terus mengemudi, setelah itu wajib istirahat dan istirahat itu adalah tidur yang bener, bukannya malah cuma ngopi, ngobrol, atau yang lain karena tidak atau belum ngantuk. Hal itu berfungsi untuk bisa mengembalikan aliran darah dan oksigen ke otak dan melemaskan otot-otot yang kaku akibat mengemudi terlalu lama," katanya. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved