Selasa, 12 Mei 2026

Ini Sejarah Gong Sekaten Menurut Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon

Keraton Kanoman Cirebon menggelar tradisi Nyiram Gong Sekaten, Rabu (6/11/2019).

Tayang:
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Ichsan
tribunjabar/ahmad imam baehaqi
Abdi dalem saat menggosok Gong Sekaten yang telah dicuci menggunakan sabut kelapa dan bata merah yang dihaluskan di Langgar Alit Keraton Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Rabu (6/11/2019). Cara tradisional itu terbukti ampuh menghilangkan karat meski tanpa menggunakan bahan kimia apapun. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Keraton Kanoman Cirebon menggelar tradisi Nyiram Gong Sekaten, Rabu (6/11/2019).

Tradisi itu digelar rutin setiap setahun sekali, tepatnya pada 7 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah.

Dalam ritual itu, para pinangeran atau bangsawan, nayaga, dan abdi dalem akan mencuci gamelan pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati.

Gong itu dicuci sebelum digunakan pada rangkaian acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Keraton Kanoman.

Menurut Juru Bicara Keraton Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina, diperkirakan usia Gong Sekaten mencapai 700-an tahun.

"Gong Sekaten ini seperangkat gamelan pusaka Keraton Kanoman yang awalnya dari Keraton Demak," kata Arimbi Nurtina saat ditemui di Keraton Kanoman, Kecamatan Lemahwangkuk, Kota Cirebon, Rabu (6/11/2019).

Ayah Meninggal Ibu Tak Tahu Ada Dimana, Bocah Ini Terpaksa Jualan Kerupuk Keliling Bantu Neneknya

Ia mengatakan, Gamelan Sekaten itu dihadiahkan kepada Ratu Wulung Ayu, putri Sunan Gunung Jati dan istrinya Nyimas Tepasari dari Majapahit.

Kala itu, Ratu Wulung Ayu baru saja ditinggal wafat suaminya, Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, Raja Demak Bintoro kedua setelah Raden Fattah.

Saat Ratu Wulung Ayu hendak pulang ke Cirebon, Raja Demak Bintoro ketiga, Sultan Trenggono, memberikan hadiah Gamelan Sekaten itu.

Ratu Wulung Ayu pun memerintahkan para nayaga untuk memainkan Gamelan Sekaten setiap Panjang Jimat atau puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw.

"Penonton yang ingin menikmati suguhan musik Gong Sekati tidak dipungut biaya sepeser pun," ujar Arimbi Nurtina.

PERSIB BANDUNG VS PSIS SEMARANG, Live Streaming Indosiar di TV Online, Rekor Cleansheet dan 3 Poin

Masyarakat yang menonton dan menikmati alunan musik Gamelan Gong Sekati tersebut cukup mengucapkan dua kalimat syahadat.

Sekaten itu berasal dari syahadatain atau dua kalimat syahadat yang harus diucapkan untuk menonton pertunjukan Gong Sekaten.

Menurut Arimbi, benda pusaka tersebut menjadi saksi bisu kebesaran tradisi Islam di Cirebon, khususnya di Keraton Kanoman.

"Memang dulunya ini menjadi cara dakwah menyebarkan ajaran Islam tanpa pedang," kata Arimbi Nurtina.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved