Bantuan dari Pemkab KBB Terlambat, tapi Pedagang di Gunung Tangkubanparahu Merasa Terbantu

Meski bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) sedikit terlambat, pedagang yang biasa b

Bantuan dari Pemkab KBB Terlambat, tapi Pedagang di Gunung Tangkubanparahu Merasa Terbantu
Tribunjabar/Hilman Kamaludin
Pedagang di Gunung Tangkubanparahu saat membereskan barang dagangannya. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, LEMBANG - Meski bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) sedikit terlambat, pedagang yang biasa berjualan di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkubanparahu merasa terbantu.

Ribuan Pedagang selama tiga bulan tidak berjualan akibat Gunung Tangkubanparahu ditutup. Namun bantuan dari Pemkab Bandung Barat baru diberikan pada Kamis (24/10/2019) setelah mereka bisa berjualan selama empat hari di tempat wisata tersebut.

Isak Jerry (52), salah seorang pedagang mengatakan, meski bantuan tersebut terlambat, tetapi ia merasa terbantu karena selama empat hari berjualan di Gunung Tangkubanparahu, hingga saat ini penghasilannya belum stabil.

"Iya kami sudah mendapat bantuan sembako, alhamdulillah merasa terbantu. Kalau masalah terlambat, ya tidak apa-apa," ujar Isak Jerry kepada Tribun Jabar, Minggu (27/10/2019).

Fachrudin Kini Baru Rasakan El Classico, Debut Perkuat Persija Jakarta Lawan Persib Bandung

Sejak Gunung Tangkubanparahu dibuka setelah PVMBG menurunkan statusnya dari Level II Waspada menjadi Level I Normal, pedagang langsung berbenah dan membersihkan kiosnya untuk berjualan lagi.

"Bantuan itu setelah pedagang bisa berjualan lagi, tapi memang (penghasilannya) belum stabil," kata dia.

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sendiri memberikan bantuan berupa sembako seperti, beras, telur, gula, minyak dan lain-lain untuk 1.324 pedagang yang mayoritas warga Cikole.

Bupati Bandung Barat, Aa Umbara mengatakan, bantuan pangan ini diharapkan bisa membantu kebutuhan dapur para pedagang yang pendapatannya menurun selama Gunung Tangkubanparahu ditutup.

"Saat erupsi mereka ada yang jualan di obyek wisata lain tapi memang hasil jualannya tidak sebagus di Tangkubanparahu," katanya.

Nadiem Makarim akan Dipertemukan dengan Bos Bukalapak dalam Pemilihan Rektor ITB, Ini Prosesnya

Menurutnya, bagi pedagang berhentinya jualan akibat erupsi meruapaka bagian dari resiko mengais rejeki di obyek wisata alam dan mereka memahaminya karena kejadian itu tidak terprediksi, sehingga ada sebagian pedagang yang tidak mempersiapkan diri.

"Pedagang juga tahu risiko berjualan di gunung api aktif dan kami dari pemerintah berupaya sedikit mengurangi beban mereka selama masa libur," ucapnya.

Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved