Ini Trik Licik FY Gelapkan Dana Nasabah Rp 58,9 Miliar, Pura-pura Tawarkan Program Investasi

Untuk menguras dana nasabah BNI Ambon, FY alias Faradiba (40), menggunakan trik curang untuk mengelabui nasabah dan menyalahi sistem perbankan.

KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTY
Dirkrimsus Polda Maluku, Kombes Pol Firman Nainggolan (ktengah) didampingi Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Muhamad Roem Ohoirat (kanan) dan Pimpinan BNI Wilayah Makassar Afrizal saat menyampaikan keterangan pers terkait kasus peenggelapan dana nasabah BNI Cabang Ambon di kantor Polda Maluku, Selasa (22/10/2019) 

TRIBUNJABAR.ID, AMBON - Untuk menguras dana nasabah BNI Ambon, FY alias Faradiba Yusuf (40), menggunakan trik curang untuk mengelabui nasabah dan menyalahi sistem perbankan.

Untuk menggelapkan dan nasabah BNI Ambon, FY dibantu Soraya alias SP yang juga kini telah ditetapkan sebagai tersangka.

Kasus ini terungkap berawal dari investigas internal. Saat investigasi, petugas menemukan transaksi tidak wajar di bank tersebut.

Peran SP dalam kasus itu yakni membuka rekening untuk menampung dana hasil kejahatan yang dikuras dari para nasabah.

Menurut Direktur Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Maluku Kombes Pol Firman Nainggolan, tersangka FY menguras dana nasabah senilai Rp 58,9 miliar dengan modus menawarkan produk imbal hasil kepada para nasabah.

MODUS Banker Faradiba Yusuf Keruk Uang Nasabah BNI Rp 124 M, Mencuri Sudah Lama Tapi Baru Ketahuan

Para nasabah yang tergiur dengan produk yang ditawarkan tersangka itu kemudian menyetor uang.

Namun, dana itu ternyata tidak dimasukkan ke dalam rekening namun digunakan untuk kepentingan pribadinya.

“Dana itu digunakan untuk menutupi dana-dana nasabah yang dijanjikan, tidak dimasukkan ke dalam sistem perbankan kenapa karena uang tersebut digunakan untuk usaha dia,” kata Firman kepada waratwan di aula kantor Polda Maluku, Selasa (22/10/2019).

Firman menjelaskan, kepada sejumlah nasabahnya, FY beralasan bahwa uang yang diinvestasikan untuk mengikuti program imbal hasil lewatnya inisiatifnya itu sedang digunakan untuk investasi hasil alam.

Namun, itu hanyalah kamuflase untuk memperdaya para nasabah.

Halaman
123
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved