Maksimalkan Peran Guru BK di era 4.0, Universitas Masoem Gelar Seminar Internasional

Universitas Masoem menggelar seminar internasional bertajuk Peran dan Tantangan Bimbingan dan Konseling di Era Industri 4.0.

Maksimalkan Peran Guru BK di era 4.0, Universitas Masoem Gelar Seminar Internasional
istimewa
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan dan Tinggi (LL-Dikti) Jabar dan Banten, Prof Dr Uman Suherman saat menjadi keynote speaker dalam seminar internasional Peran dan Tantangan Bimbingan dan Konseling di era Industri 4.0, di aula Universitas Ma'soem, Jumat 18 Oktober 2019. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sebagai upaya menjawab tantangan dan peran guru bimbingan konseling (BK) di era industri 4.0, ratusan guru BK dari berbagai sekolah menengah atas (SMA) dari Kabupaten Bandung, Garut, dan Sumedang mengikuti seminar internasional bertema “Peran dan Tantangan Bimbingan dan Konseling di Era Industri 4.0”, di Aula Masoem University, Jalan Raya Cileunyi-Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jumat (18/10/2019).

Seminar yang diselenggarakan Masoem University bekerja sama dengan University Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia dan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Komisariat VI B menghadirkan keynote speaker Prof Dr Uman Suherman AS MPd, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Jabar dan Banten, dan pembicara Ab Azis Mohd Yatim serta Prof Madya Dr Ridzwan bin Che Rus, keduanya dari UPSI Malaysia.

Seminar yang dibuka oleh Pelaksana Harian Rektor Universitas Masoem, Ir H Tonton Taufik MBA ini, dihadiri oleh pengurus Aptisi Jabar Ali Abdurrahman dan ratusan guru BK.

Dalam sambutannya Tonton mengatakan Universitas Masoem adalah universitas yang mempunyai visi berkarakter islami, berwawasan kebangsaan, dan berstandar Internasional.

“Kami memang baru lahir pada Maret 2019, dengan begitu kami terus berlari untuk mengejar universitas lain yang telah menunjukkan kualitas mumpuni, sekaligus bersosialisasi”, ujarnya.

Prof Dr Uman Suherman MPd mengatakan di setiap kampus yang ia kunjungi selalu mengatakan setiap kampus harus berniat menjadi kampus terbaik, tanpa harus menjatuhkan kampus lain.

"Cara yang paling sederhana dengan menyempurnakan kelebihan yang dimiliki hingga menembus level terbaik dan memperbaiki semua kekurangan yang ada," ujar profesor sekaligus guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), asal Garut ini.

Konsep sederhana yang diharapkan adalah khoirunaas, anfa’uhum linnaas, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lain.

"Jika ibadah salat dan puasa secara langsung hanya memberi manfaat bagi diri sendiri maka sebuah lembaga atau yayasan bisa membuat manfaat untuk banyak orang, begitu banyak nilai-nilai kebaikan yang akan datang," ujarnya.

Ia mengharapkan peran guru BK bisa berkolaborasi dengan perkembangan zaman di era industri 4.0. Sebab, guru BK bisa mengarahkan peserta didik menjadi pribadi yang handal sesuai dengan kebutuhan di era industri saat ini.

Halaman
12
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved