Breaking News:

Terinspirasi dari Bon Jovi yang Pernah Jadi Office Boy, Dikki Dobrak Stigma dengan Kerja Keras

Dari jutaan siswa SMA di Indonesia, mungkin cuma segelintir orang yang bertekad kuat demi mewujudkan kuliah tanpa biaya dari orang tua.

Istimewa
Dikki Wahyu Afandi mitra pengemudi GrabBike Bandung 

Namun, Dikki tidak gengsi sama sekali. Dirinya justru melawan stigma. 

“Ah, saya ​nggak gengsi. Dari kecil juga diajari bahwa ​mun gengsi na gede, rezekina moal gede. (Jika banyak gengsi, rezekinya tak akan banyak)​. Saya juga terinspirasi dari Bon Jovi yang sebelum jadi musisi besar, dia harus jadi ​office boy. Yang kedua, Freddy Mercury, dia harus jadi tukang angkat koper dulu sebelum jadi vokalis Queen, dan juga banyak contoh-contoh yang lain. Jadi, saya nggak malu, apalagi saya tidak melakukan pekerjaan yang salah,” ujarnya. 

Pengorbanan yang dilakukan Dikki untuk meraih cita ternyata didukung teman-temannya.

Tak jarang, teman-teman sesama mahasiswa memuji perjuangan Dikki yang mandiri sebagai mitra  pengemudi Grab

“Yang jelas, mereka (mahasiswa) tidak ​ngetawain, justru mendukung dan memuji. ‘Wah, subuh-subuh ke kampus, ​nyimpen gorengan, dilanjutkan nge-Grab’ kata teman-teman saya. Mereka nanya, ‘Enggak capek?’,‘ Kalau dibawanya ​happy ​ kan nggak capek,” ujar pria yang murah senyum ini. 

Selain itu, suatu waktu, dia pernah mendapat ​order dari dosennya yang juga Ketua Jurusan Sejarah Peradaban Islam. Hal ini menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan baginya. 

“Saya sedang mangkal. Tiba-tiba ​kriing kriing. ​ Ada orderan dari Samsudin19**. Karena ​enggak ada fotonya, saya ​chat ​ beliau. Saya penasaran," kata Dikki.

"Pak Sam, ini Pak Sam bukan’? Lalu yang pesan itu menjawab, Betul, Kang. Dan saya pun langsung membalas. Ini Dikki, Pak. Mahasiwa bapak," ujar Dikki sambil memegangi ponselnya, memeragakan kejadian saat itu. 

“Oh, Dikki, ​hahaha. Oh ​sok kadie kasep ​ (Oh, ke sini, ganteng),” ujar Dikki yang menirukan reaksi dosennya sambil tersenyum.

Dikki melanjutkan ceritanya, "Jadi, di jalan itu kami​ ngobrolin kuliah, ditraktir es kelapa juga, sama dilebihin ongkosnya. Ternyata, oleh Pak Sam, saya dijadikan bahan kuliah juga. Kan beliau itu dosen kewirausahaan, beliau bilang ke mahasiswa, ‘Contoh tuh kakak kelas kamu Dikki. Malam-malam masih berani ​nge ​ -Grab, berani nganter bapak ke Lembang.”  

Kisah itu hanya sedikit dari banyak pengalaman yang Dikki alami selama menjadi mitra pengemudi GrabBike.

Semua kesusahan dan kelelahan dia hadapi dengan niat ibadah.  

Di sisi lain, dengan menjadi mitra pengemudi GrabBike, Dikki berhasil menuntaskan studinya di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati dengan nilai memuaskan.

Dia mengaku, waktu luangnya sebagai mahasiswa lebih berguna dan menghasilkan daripada sebelumnya. 

Selain memenuhi biaya kuliah, hasil kerja kerasnya pun bisa ia gunakan untuk banyak hal, terutama untuk meringankan beban orang tua dan menyiapkan masa depannya.  

“Hasilnya lumayan. Saya bisa ​nyicil motor, bisa bayar kuliah sendiri, kemudian sudah bisa beli jajan dan ongkos adik sekolah, buat biaya orang tua juga. Udah bisa juga renovasi rumah, terus ditabung buat nikah,” pungkas pemuda berusia 22 tahun itu. 

Di usianya yang masih muda, Dikki mendapatkan banyak hal berarti.

“Karena Grab juga, saya mengenal Kota Bandung. Semua rute jadi hafal​. Berkat Grab juga saya punya teman-teman. Saya sangat berterima kasih kepada Grab, utamanya untuk pengalaman hidup.”  

Dikki Wahyu Afandi mitra pengemudi GrabBike Bandung
Dikki Wahyu Afandi mitra pengemudi GrabBike Bandung (Istimewa)

Ke depannya, Dikki pun bertekad untuk tetap melayani masyarakat sebagai mitra pengemudi GrabBike sembari mencari kesempatan melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. 

Dikki merupakan salah satu dari jutaan mitra pengemudi Grab meraih impiannya demi membahagiakan orang tersayang. Saat ini, Grab menyediakan layanan dengan jangkauan terluas di Asia Tenggara di 338 kota yang tersebar di 8 negara dengan lebih dari 152 juta unduhan aplikasi, termasuk Indonesia tempat Grab beroperasi di 224 kota dari Sabang hingga Merauke. 

Berdasarkan hasil penelitian Riset Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics, Grab telah berkontribusi sebesar 48,9 triliun rupiah bagi perekonomian Indonesia di tahun 2018.

Pada layanan GrabCar, rata-rata pendapatan mitra pengemudi tumbuh 114% dengan kisaran pendapatan Rp 7 juta per bulan.

Selain transportasi, bisnis layanan pesan-antar makanan GrabFood juga berkembang pesat di Indonesia, beroperasi di 178 kota di Indonesia dengan volume pengiriman tumbuh hampir 10 kali lipat pada tahun 2018. (*)

Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved