Hukuman Mati

Ini Alasan Majelis Hakim PN Garut Vonis Hukuman Mati bagi 2 Pembunuh Sopir Taksi Online

Menurut Endratno Rajamai, perbuatan kedua pelaku tersebut sangat keji dan sadis. Majelis hakim pun memutuskan untuk menjatuhkan vonis hukuman mati.

Ini Alasan Majelis Hakim PN Garut Vonis Hukuman Mati bagi 2 Pembunuh Sopir Taksi Online
Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Dua terdakwa pembunuh sopir taksi online mendengarkan putusan yang dibacakan majelis hakim Pengadilan Negeri Garut, Senin (14/10/2019). Hakim memutuskan hukuman mati kepada dua terdakwa. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT- Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Garut, Endratno Rajamai yang memvonis mati dua pelaku pembunuh sopir taksi online, menilai tak ada hal yang meringankan saat memutus perkara itu.

Menurut Endratno Rajamai, perbuatan kedua pelaku tersebut sangat keji dan sadis. Majelis hakim pun memutuskan untuk menjatuhkan vonis hukuman mati.

"Ini (vonis mati) memang yang pertama di PN Garut. Sebelumnya (vonis) paling tinggi itu hukuman seumur hidup," ujar Endratno Rajamai saat dihubungi, Senin (14/10/2019).

Hakim menilai kedua pelaku telah terbukti melakukan pembunuhan berencana. Keduanya sangat tak berprikemanusiaan saat menghilangkan nyawa korban.

"Sangat sadis pembunuhannya. Setelah dipukul kampak, terus digilas mobil. Jenazahnya dibuang dan mobil korban diambil," kata Endratno Rajamai.

Perjalanan Kasus Pembunuhan Keji Sopir Taksi Online Bandung, Pelaku Tersenyum Divonis Hukuman Mati

Dua Pembunuh Yudi Divonis Hukuman Mati di PN Garut, Keluarga Mengaku Puas

Kedua terpidana langsung mengajukan banding setelah majelis hakim memutus hukuman mati.

Banding tersebut diajukan karena melihat kasus pembunuhan mahasiswi Stikes yang pelakunya hanya dihukum seumur hidup.

Menanggapi alasan tersebut, Endratno Rajamai menyebut jika cara pelaku menghabisi korbannya lebih sadis. Apalagi pelaku sudah mengenal korbannya.

"Kami tidak melihat ada hal yang meringankan selama persidangan. Walau keduanya sudah mengakui perbuatan dan kooperatif selama sidang," ucapnya.

Ia menilai perbuatan para pelaku sangat biadab. Putusan yang dijatuhkan itu memang lebih tinggi dari tuntutan jaksa yang meminta hukuman seumur hidup.

PN Garut memberi kesempatan selama tujuh hari kepada terpidana untuk mengajukan banding. Nantinya berkas putusan perkara akan dikirimkan ke Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Barat.

"Biar PT yang putuskan apakah vonis mati itu sudah sesuai atau belum. Nanti akan dinilai sama PT," katanya.

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved