Meski Ribuan Tomat Itu Dilempar ke Berbagai Arah, Para Petani Justru Senang, Ternyata Ini Alasannya

Ribuan warga dan para petani tampak bersemangat saat mengikuti acara acara Rempug Tarung Adu Tomat atau Perang Tomat

Meski Ribuan Tomat Itu Dilempar ke Berbagai Arah, Para Petani Justru Senang, Ternyata Ini Alasannya
tribunjabar/hilman kamaludin
Perang Tomat di Cikareumbi Lembang 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, LEMBANG - Ribuan warga dan para petani tampak bersemangat saat mengikuti acara acara Rempug Tarung Adu Tomat atau Perang Tomat di Kampung Cikareumbi RW 03, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Minggu (13/10/2019).

Warga dan petani yang terlibat dalam perang tomat tersebut memakai pakaian pangsi yang dilengkapi dengan alat pelindung yang terbuat dari anyaman bambu berupa helm dan tameng, sedangkan warga hanya menggunakan jas hujan.

Miranti Leany (24), warga yang berpartisipasi dalam perang tomat mengaku, saking semangatnya untuk mengikuti perang tomat, ia sudah melakukan persiapan, di antaranya harus membeli jas hujan berbahan keresek.

"Iya tadi saya mengikuti perang tomat, makanya dari rumah saya membawa jas hujan keresek ini agar tubuh tidak terlalu kotor oleh cairan tomat busuk," ujarnya saat ditemui usai perang tomat.

Spanduk Tolak Anarko Beterbaran di Kota Bandung, tapi Warga Tak Tahu Siapa yang Masang

Ia mengaku, baru pertama kali ikut serta dalam perang tomat tersebut. Menurutnya, acara ini sangat bagus untuk meningkatkan kebudayaan dan bisa bermanfaat bagi petani karena tomat yang sudah hancur bisa dijadikan kompos.

"Biasanya tomat yang sudah hancur, setelah perang tomat ini biasanya dikumpulkan lagi untuk dijadikan kompos," katanya.

Sementara, menurut Wawan (47) petani yang juga ikut serta dalam perang tomat tersebut, mengatakan, hal itu sebagai bentuk kekecewaan dari petani karena saat ini harga tomat sangat murah, yakni hanya Rp 500 per kilogram.

"Sehingga tomat banyak yang tidak terpakai. Jadi dari pada tidak bermanfaat, mendingan digunakan untuk acara perang tomat yang bekasnya bisa digunakan untuk kompos bagi tanaman lain," katanya.

Simping Makanan Khas Purwakarta Ini Banyak Dicari, Kriuk-kriuk Nampol di Lidah

Penggagas Perang Tomat, Mas Nanu Muda (60), mengatakan, ketika panen tomat seharusnya para petani itu merasa bangga, gembira dan bersyukur bahwa hasil panen tomat yang melimpah ruah itu akan menghasilkan keuntungan materi.

Halaman
12
Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Ichsan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved