VIDEO Mengenal Penyebab Penyakit Jantung dan Penangannya di Acara Seminar RS Santoso Kebonjati

Kali ini, Santosa Hospital Kebonjati menggelar seminar tentang Jantung dan Pembuluh Darah, di Auditorium lantai 5 Rumah Sakit Santosa Jalan Kebonjati,

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Fasko Dehotman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -
 Santosa Hospital kembali menunjukkan kepeduliannya di bidang kesehatan.

Kali ini, Santosa Hospital Kebonjati menggelar seminar tentang Jantung dan Pembuluh Darah, di Auditorium lantai 5 Rumah Sakit Santosa Jalan Kebonjati, Bandung, Sabtu (12/10/2019).

Topik utamanya adalah Gangguan Pada Jantung & Pembuluh Darah, Penyebab, dan Cara Penanganannya.

Seminar tersebut diikuti oleh ratusan peserta dari Komunitas Jantung Sehat dan masyarakat umum lainnya.

Para pembicara yang hadir, merupakan Spesialis Jantung & Pembuluh Darah RS Kebonjati, dr Giky Karwiky, Sp JP (K) dan dr M Reza Juniery Sp JP.

Dalam presentasinya, dr Giky menyampaikan, penyebab penyakit jantung ini bertambah karena mindset pola hidup sehat di Indonesia tidak sebaik di negara maju.

"Karena itu sekitar 80 persen kasus baru, justru akan terjadi di negara berkembang seperti Indonesia," kata dr Giky dihadapan puluhan peserta yang hadir.

dr Giky menjelaskan, kasus baru tersebut antara lain penyakit ini tidak lagi menyerang usia tua tapi juga diusia yang lebih muda.

"Bila sebelumnya jantung lebih banyak menyerang seseorang di atas usia 60 tahun, kini jantung juga menyerang mereka yang di atas usia 40 tahun. Bahkan ada yang lebih muda di bawah usia tersebut.

Pola hidup saat ini menjadi salah satu pemicu adanya pergeseran munculnya kasus baru.

Hingga kini pola gaya hidup sehat di Indonesia termasuk di Jawa Barat masih rendah.

Kondisi ini menjadi pemicu seseorang terkena penyakit jantung, satu di antaranya adalah penyakit jantung koroner

Padahal, bila seseorang menerapkan pola hidup sehat, penyakit jantung koroner yang banyak menyerang seseorang bisa dicegah.

Menurut dr Giky, lebih dari tiga per empat (80 persen) penyakit jantung koroner sebenarnya dapat dicegah dengan tidak merokok, melakukan olahraga teratur, mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang serta terbebas dari stress.

"Stress bisa memicu seseorang terkena penyakit jantung koroner. Bahkan stress juga banyak pemicunya, mulai dari masalah ekonomi, sosial serta permasalahan lainnya yang bisa membuat orang menjadi stress," jelas dr Giky.

Oleh karena itu, dr Giky menghimbau kepada para peserta, betapa pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan.

"Pemeriksaan kesehatan ini dilakukan agar gejala penyakit dapat segera dikenali, termasuk jantung. Sehingga dapat melakukan tindakan yang tepat," ujar dr Giky.

Saat ini, dunia medis kedokteran terus berkembang dan maju seiring perkembangan teknologi.

dr Giky menambahkan, saat ini penanganan penyakit juga semakin bertambah dan berkembang. Termasuk dalam penanganan penyakit jantung.

Seperti penanganan masalah denyut jantung yang lemah bisa diatasi dengan penanaman alat pacu jantung di dada.

Alat tersebut mengeluarkan impuls listrik agar denyut jantung kembali normal.

"Penderita dapat kembali beraktivitas sehari hari tanpa terganggu dengan adanya alat pacu jantung di dada. Begitu pula jika denyut jantung terlalu cepat dapat dilakukan tindakan ablasi untuk mengembalikan denyut nadi menjadi normal kembali," kata dr Giky.

Cara mudah untuk mengecek adalah hitunglah nadi permenit untuk mengetahui irama jantung.

Cara melakukannya yaitu diraba saja di bagian dekat pergelangan tangan dimana nadi berdenyut lalu dihitung selama satu menit saat istirahat.

"Perhatikan apakah terlalu cepat atau terlalu lambat dan apakah teratur ataukah tidak. Bila merasa ada gangguan maka segera periksakan ke dokter ahli jantung," jelas dr Giky.

Selain itu, sejumlah deteksi lain mungkin dilakukan. Misalnya foto rontgen, uji laboratorium (memanfaatkan darah), pemeriksaan elektrokardiografi, ekokardiografi, uji beban jantung dan lainnya.

Itulah upaya deteksi dini penanganan penyakit jantung. 
Hal tersebut menjadi lebih penting jika ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit jantung atau memiliki resiko tinggi.
 
Editor: Fasko Dehotman
Video Production: Wahyudi Utomo
Penulis: Fasko dehotman
Editor: yudix
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved