Polisi Gadungan Bawa Senjata Api Mainan, Pura-pura Razia STNK Siswa SMA, Rampas Ponsel lalu Kabur

Warga Kabupaten Garut, Dannis (26) nekat menjadi polisi gadungan dan kerap membawa replika senjata api untuk

Polisi Gadungan Bawa Senjata Api Mainan, Pura-pura Razia STNK Siswa SMA, Rampas Ponsel lalu Kabur
Tribunjabar/Hilman Kamaludin
Gelar perkara polisi gadungan di Mapolsek Cisarua. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, CISARUA - Warga Kabupaten Garut, Dannis (26) nekat menjadi polisi gadungan dan kerap membawa replika senjata api untuk merampas ponsel milik siswa SMA yang berada di daerah Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Akibatnya, ia diringkus anggota Polsek Cisarua di sekitar Desa Cihideung, tepatnya di area bekas Kampung Gajah setelah polisi mendapatkan laporan dari korban yang merupakan siswa SMA.

Kapolsek Cisarua, Kompol Ikhwan Heriyanto, mengatakan, saat melancarkan aksinya, pelaku ini kerap mengaku sebagai polisi yang bertugas di Polsek Cisarua, kemudian terhadap korban ia menanyakan kelengkapan surat kendaraan korbannya.

"Tapi saat melancarkan aksinya pelaku tidak mengenakan seragam polisi, hanya berpakaian preman dan menenteng replika senjata api," ujarnya di Mapolsek Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (11/10/2019).

Bobotoh Kecewa Laga Persib Bandung vs Persebaya Surabaya Digelar di Bali, Kalau Mau Geser Waktunya

Sementara untuk modus yang dilakukan pelaku saat beraksi, dia berpura-pura merazia kendaraan milik korbannya, lalu setelah dipastikan korban tak membawa STNK dan SIM dia meminta korban untuk mendatangi Polsek Cisarua dengan jaminan ponsel.

"Pelaku meminta korban untuk mendahuluinya ke Polsek, kemudian melarikan diri saat melewati Curug Cimahi. Sebagai jaminan ponsel milik korban diambil," katanya.

Kapolsek mengatakan, setiap beraksi pelaku ini melakukan aksinya hanya sendirian dan sasarannya anak-anak remaja atau anak sekolah yang sedang nongkrong.

Atas perbuatannya, kata Ikhwan, pelaku dijerat dengan pasal berlapis yakni pasal 368 juncto 372 dan pasal 378 karena ada unsur penipuan dan pencurian.

"Untuk hukumannya, maksimal 5 tahun penjara," ucapnya.

Universitas Widyatama Sabet Perak di Malaysia, Rancang Deteksi Cybercrime dan Terorisme di Medsos

Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved