Kasus Penikaman Wiranto Disebut Delusi, Keyakinan Keliru Dianggap Kebenaran oleh Pelaku

Insiden penyerangan yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang diduga merupakan jaringan teroris kelompok JAD

Kasus Penikaman Wiranto Disebut Delusi, Keyakinan Keliru Dianggap Kebenaran oleh Pelaku
Kolase Tribun Jabar (Instagram/wiranto.official dan Istimewa)
Wiranto dan Abu Rara 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Insiden penyerangan yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang diduga merupakan jaringan teroris kelompok JAD kepada Menkopolhukam, Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019), membuat pertanyaan besar di benak masyarakat terkait motif dari kedua pelaku tersebut.

Menurut pakar kejiwaan, dr Teddy Hidayat, meski ia belum mengetahui motif sebenarnya dari upaya tindak kejahatan tersebut, secara nalar mereka pasti memahami bahwa upaya tersebut akan berujung pada sanksi hukum sebagai bentuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Seperti halnya pelaku bom bunuh diri yang memiliki keyakinan yang salah dan menyimpang, bahwa dengan mereka melakukan tindakan tersebut merupakan suatu amal, dan bila tewas maka mereka akan masuk surga karena jihad. Hal ini tentunya konyol dan tidak masuk akal. Sehingga faktornya adanya perbedaan akidah dalam memahami makna jihad," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (11/10/2019).

Begini Kronologis Penusukan Wiranto Menurut Kapolsek Menes yang Juga Jadi Korban Kena Tusuk

Oleh karena itu, dalam pemahaman secara psikologis, hal tersebut disebut Waham/Delusi. Waham merupakan salah satu gejala yang sangat sering pada gangguan jiwa.

Karena merupakan satu keyakinan yang salah tetapi dianggap atau dipercaya sebagai suatu kebenaran dari yang bersangkutan dan tidak bisa digoyahkan dan tidak sesuai dengan latar belakang yang bersangkutan.

Waham juga, lanjutnya disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, waham kejaran seperti pelaku merasa ada orang yang bermaksud jahat kepadanya; waham cemburu, tanpa alasan yang jelas, dia menuduh bahwa pasangannya itu tidak setia atau selingkuh; dan waham dituduh, yang bersangkutan merasa orang - orang menuduh dan memfitnah dia, padahal tidak ada bukti.

Ini Manfaat Daun Salam, Rutin Minum Air Rebusannya Bisa Atasi Penyakit Jantung hingga Batu Ginjal

"Jadi seperti paranoid akan keyakinan yang salah namun menurutnya merupakan sebuah kebenaran, sesorang seperti ini harus di koreksi terkait keyakinannya tersebut," ucapnya

Penulis: Cipta Permana
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved