Demi BBM Bersubsidi, Nelayan di Kabupaten Gunungkidul Mengaku Rela Cium Kaki Pejabat

Ribuan nelayan di Kabupaten Gunungkidul kesulitan mengakses BBM bersudsidi, premium dan solar padahal mereka sudah mengantongi surat rekomendasi

Demi BBM Bersubsidi, Nelayan di Kabupaten Gunungkidul Mengaku Rela Cium Kaki Pejabat
Kompas.com/Markus Yuwono
Audensi antara Nelayan dan Forkompinda di Gedung DPRD Kabupaten Gunungkidul, Selasa (8/10/2019) 

TRIBUNJABAR.ID, YOGYAKARTA- Nelayan di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, mengaku rela mencium kaki pejabat demi mendapatkan BBM bersubsidi.

Saat ini, ribuan nelayan di Kabupaten Gunungkidul kesulitan mengakses BBM bersudsidi, premium dan solar padahal mereka sudah mengantongi surat rekomendasi.

Alasannya, para pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) takut menjual BBM bersubsidi jika pembeli menggunakan jeriken.

"Kalau perlu saya mencium kaki bapak ibu sekalian agar kami nelayan bisa membeli BBM bersubsidi," kata Sekretaris DPD HSNI DIY Gamal Asgar dalam audensi dengan Forkompimda di Kantor DPRD Gunungkidul, Selasa (8/10/2019).

Selama ini, para nelayan sulit mengakses BBM bersubsidi seperti premium dan solar. SPBU enggan menjual BBM bersubsidi meski para nelayan sudah mengantongi surat rekomendasi.

Para nelayan sebenarnya mampu untuk membeli BBM non subsidi dengan jenis pertalite atau pertamax namun mesin kapal yang dipakai tidak bisa menggunakan kedua jenis BBM tersebut.

Jual BBM Bersubsidi ke Industri di Cirebon, Direktur PT Ferse Mandiri Sejahtera Diamankan

Polres Indramayu Amankan 2,1 Ton Premium dari Sindikat Penyalahgunaan BBM Bersubsidi

"Mesin kapal nelayan itu jenisnya 2 tak dan harus menggunakan oli samping, kalau kami menggunakan pertamax atau pertalite mesin kami yang tidak mampu, akan berkerak dan mudah rusak," ucapnya.

Menurut Gamal, pemilihan mesin 2 tak bukan tanpa alasan. Sebab, karakteristik laut selatan, kapal harus bermesin 2 tak yang memiliki respons cepat untuk menghindari gelombang.

Dengan jumlah nelayan sekitar 2019 orang, setiap bulan nelayan membutuhkan BBM subsidi berjenis solar 43 ton untuk kapal berukuran 5 GT-30 GT.

BBM bersubsidi premium dibutuhkan 180 ton untuk nelayan yang menggunakan perahu motor tempel.

Halaman
12
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved