Warga Cihideung Jaga Kelestarian Alam dari Kepentingan Bisnis dengan Upacara Ngalokat Cai

Berbagai cara dilakukan oleh warga Desa Cihideung, Kecamatan Parangpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB)

Warga Cihideung Jaga Kelestarian Alam dari Kepentingan Bisnis dengan Upacara Ngalokat Cai
tribunjabar/hilman kamaludin
Upacara adat 'Ngalokat Cai Nyalametkeun Solokan' di Desa Cihideung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, PARONGPONG - Berbagai cara dilakukan oleh warga Desa Cihideung, Kecamatan Parangpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) untuk melestarikan dan menjaga alam, khususnya air yang sangat dibutuhkan oleh petani dan pengusaha tanaman hias.

Untuk melestarikan dan menjaga alam itu, pada Minggu (6/10/2019), warga mengadakan upacara adat 'Ngalokat Cai Nyalametkeun Solokan' yang dimeriahkan dengan perang air, sasapian, lomba tumpeng yang diikuti 70 peserta dan hiburan lainnya.

Pantauan Tribun, warga tampak antusias, ketika menyaksikan kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Kavling, Dusun Kancah, RW 10, Desa Cihideung itu. Menggunakan pakaian adat dan pakaian tradisional sebagian warga berpartisipasi dalam upacara adat tersebut.

Tokoh Masyarakat sekaligus Budayawan Lokal, Mas Nanu Muda, mengatakan, upacara 'Ngalokat Cai Nyalametkeun Solokan' itu bertujuan agar sumber air Irung-irung yang mengaliri tiga RW yakni RW 10, 11, dan 13 ini tidak dikuasai pengusaha untuk kepentingan bisnis.

Kabupaten Indramayu Kembali Pecahkan Rekor, Kali Ini Bikin Batik Complongan Hanya 492 Detik

"Karena masih banyak masyarakat di Cihideung yang menggantungkan pertaniannya pada sumber air belerang yang berasal dari Gunung Tangkuban Parahu ini," ujarnya saat ditemui disela kegiatan.

Selain itu, dengan tetap melestarikan tradisi budaya itu, maka para pengusaha yang kini merambah ke kawasan Cihideung akan tahu bahwa, air Irung-irung sangat dijaga masyarakat demi berlangsungnya usaha pertanian yang selama ini sudah menjadi mata pencaharian.

Ia mengatakan, sumber air yang berada di Dusun Kancah Cihideung ini oleh masyarakat setempat diberi nama Irung-irung karena memiliki dua sumber air yang diibaratkan laki-laki dan perempuan.

"Walaupun kemarau panjang air disini tidak pernah kering. Hanya saja masalah air ini tidak bisa ditanami oleh ikan, tapi kalau untuk tanaman bagus dan bisa subur karena air ini merupakan air belerang," ucapnya.

Mas Nanu menjelaskan, pada mulanya Ngalokat Cai Nyalametkeun Solokan itu dilakukan masyarakat Cihideung zaman dulu yang kesehariannya sebagai petani padi untuk menyelaraskan kehidupan sekaligus mensejajarkan manusia dengan alam.

Misteri Goa Jepang di Purwakarta, Dihuni Banyak Kelelawar, Mirip di Vietnam

Namun, saat ini upacara adat tersebut dilaksanakan sebagai upaya menjaga kekayaan alam dari kepentingan bisnis, karena dua sumber air yang berada di kawasan Cihideung berada di dalam areal komersil.

"Air yang di sumber Irung-irung itu kan sekarang ada di wilayah perusahaan Lembang Park and Zoo tapi sumber airnya tidak dijual sama (pemilik) yang dulu," katanya.

Disi lain, ia menjelaskan, saat ini kondisi masyarakat Cihideung sudah mulai tercemari budaya luar sehingga cenderung individualis, walaupun tinggal di pedesaan, sehingga upacara adat ini juga sebagai sarana untuk menjalin silaturahmi.

"Sekaligus menjaga kerukunan antar warga yang saat ini mulai terkikis," katanya.

Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved