Ribuan Murid SD dan Pelajar SMP di Cirebon Membatik Bersama di Kawasan Batik Trusmi
Ribuan pelajar yang terdiri dari murid sekolah dasar (SD) hingga pelajar sekolah menegah pertama (SMP) datang ke kawasan Batik Trusmi
Penulis: Hakim Baihaqi | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Ribuan pelajar di Cirebon berbondong-bondong mendatangi Pusat Kawasan Batik Trusmi, Desa Weru Kidul, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Selasa (1/10/2019).
Ribuan pelajar yang terdiri dari murid sekolah dasar (SD) hingga pelajar sekolah menegah pertama (SMP) datang ke kawasan Batik Trusmi, untuk membatik bersama dalam memperingati Hari Batik Nasional.
Bertempat dipelataran parkir Batik Trusmi, ribuan murid SD dan pelajar SMP tampak antusias seragama menggambar batik jenis mega mendung di atas kain, menggunakan lilin cair serta canting.
Pantauan Tribun Jabar, ribuan ini tampak antusias membatik di atas kain selebar 30 sentimeter, bahkan beberapa di antaranya tampak terlihat mahir menggunakan canting.
Kayla Azzahra (10), siswa SD Galunggung, mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan membatik sebagai pengalaman pertamanya membatik di atas kain.

"Biasanya cuma bikin dibuku gambar, sekarang langsung," kata Kayla Kawasan Batik Trusmi, Selasa (1/9/2019).
• Berawal dari Niat Kenalkan Batik Khas Indramayu ke Publik, Sudiono Ajak Masyarakat Paoman Membatik
• Siswa SMKN 1 Gunung Jati Cirebon Berwirausaha Batik, Belajar Membatik dari Sekolah
Berbeda dengan Kayla, Rizki Andriano (12), mengaku kesulitan menggunakan canting untuk membatik di atas kain kanvas, sehingga banyak tetesan lilin yang tidak berada garis lingkar motif mega mendung.
Namun begitu, kata Rizki, ia sangat senang karena bisa mengetahui cara membatik, karena selama ini ia hanya sering melihat batik yang telah dipajang di toko-toko Batik di Desa Trusmi.
"Kirain gampang, ternyata susah. Tapi senang," katanya.
Pelaku usaha batik, Ibnu Riyanto, mengatakan, membatik massal itu dilakukan untuk memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober dan memang dikhususkan untuk pelajar.
Ibnu menambahkan, jumlah peserta yang mengikuti membatik massal ini berjumlah 2.837 orang dari 17 SD dan SMP di wilayah Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon.
"Mereka sangat antusias, banyak yang datang sebelum waktu pembukaan," katanya.
Selain itu, kata Ibnu, membatik secara massal ini pun sebagai upaya meningkatkan minat anak untuk melestarikan budaya asli Cirebon, sehingga batik khas Cirebon tetap dikenal masyarakat luas.
Di Kawasan Batik Trusmi, hampir semua pembatik adalah wanita yang berusia di atas 30 dan sampai saat ini belum terjadi regenerasi.
"Dari 2837 peserta yang ikut, kalau 10 persennya menjadi pengusaha batik, maka akan menyerap tenaga kerja. Karena batik ini merupakan padat karya. Intinya, mereka harus punya rasa memiliki," katanya.