Begini Untung Rugi Penambangan Batu Kapur di Karst Citatah di Cipatat KBB

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat (KBB) menilai aktivitas penambangan batu kapur di Karst Citatah

Begini Untung Rugi Penambangan Batu Kapur di Karst Citatah di Cipatat KBB
kontan
Pabrik Marmer di Citatah, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, CIPATAT - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat (KBB) menilai aktivitas penambangan batu kapur di Karst Citatah, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ada keuntungan dan kerugian yang didapatkan masyarakat setempat.

Adanya penambangan yang dilakukan sejumlah perusahaan itu membuat lingkungan di sekitar Cipatat tercemar karena adanya debu yang diduga kuat dari penambangan tersebut dan untuk kerusakan lingkungan, sejumlah gua yang bernilai arkeologis pun terancam hancur.

Kepala DLH Kabupaten Bandung Barat, Apung Hadiat Purwoko, mengatakan, dengan adanya penambangan tersebut memang mencemari lingkungan, namun disisi lain ada juga keuntungan materi yang didapatkan oleh warga setempat.

"Kalau dampak pasti ada, tapi untuk pencemaran lingkungan saya belum mendapatkan laporan gangguan kesehatan warga akibat debu dari penambangan itu. Tapi disitu ada nilai ekonomi juga untuk warga," ujarnya saat ditemui di Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung Barat, Jumat (20/9/2019).

Sahila Hisyam Dilamar Vicky Prasetyo di Acara Okay Bos, Begini Reaksinya Saat Kini Dituduh Settingan

Menurutnya, sejak dulu hal tersebut menjadi pertimbangan pihak pemerintah untuk mengeluarkan izin penambangan karena memang saling menguntungkan antara pihak perusahaan dengan masyarakat setempat.

"Tapi untuk regulasi kewenangannya ada di provinsi, seperti izin usaha, kajian dan penelitiannya. Kalau dari kami hanya izin lingkungan kemudian provinsi mengeluarkan izin eskploitasi dan produksi," katanya.

Sebetulnya, kata Apung, DLH KBB menginginkan agar aktivitas penambangan tersebut ditutup karena memang ada dampak lingkungannya, terutama saat pihak perusahaan melakukan pengolahan batu yang menyebabkan adanya debu.

"Tapi tidak memungkinkan (ditutup) karena itu merupakan potensi sumber daya alam yang harus dieksplor untuk kepentingan pembangunan dan terdapat lapangan pekerjaan juga," ucapnya.

Awas! Siapa Tahu WhatsApp di HP-mu Disadap atau Dibajak, Ketahui Lewat Cara Gampang Ini

Atas hal tersebut pihaknya menginginkan, ketika aktivitas penambangan tersebut selesai harus ada reklamasi seperti dijadikan lahan pertanian, hutan terbuka ataupun dijadikan lahan untuk pusat perbelanjaan.

Kepala Desa Gunung Masigit, Tarkopa, mengatakan, dengan adanya penambangan membuat lingkungan tercemar oleh debu, hanya saja warga setempat juga mendapatkan kompensasi dari pihak perusahaan.

"Iya kalau debu memang selalu ada, tapi warga sejak dulu mendapat keuntungan materi dari perusahaan, jadi tidak ada masalah," katanya.

Atas hal tersebut, hingga saat ini aktivitas penambangan itu masih tetap berjalan karena masih tetap berizin meskipun ada pencemaran lingkungan.

Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved