Garut Darurat Kekeringan, Bupati Garut: Sudah SOS

"Informasinya sampai akhir Oktober masih kemarau. Harus ada tindakan apalagi menyangkut air," katanya.

Garut Darurat Kekeringan, Bupati Garut: Sudah SOS
Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Sejumlah warga melintasi persawahan yang mengalami kekeringan di Desa Cibiuk Kaler, Kecamatan Cibiuk, Rabu (11/9/2019). Kemarau panjang di Garut menyebabkan 2760 hektare lahan pertanian kekeringan. 

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Pemkab Garut menetapkan status darurat kekeringan setelah 2.700 hektare lahan pertanian alami kekeringan.

Pemkab Garut menyiapkan langkah-langkah agar kekeringan tak semakin meluas.

Bupati Garut, Rudy Gunawan, mengatakan, sudah lebih dari 2.000 hektare lahan pertanian dan perkebunan mengalami kekeringan. Padahal wilayah yang mengalami kekeringan merupakan lahan produksi.

"Sudah sangat menyebar kekeringannya. Makanya sudah SOS (darurat) ini. Harus segera ditangani. Makanya saya kumpulkan dinas terkait untuk atasi kekeringan ini," ujar Rudy di Pendopo Garut, Rabu (11/9).

Sebanyak 42 kecamatan di Garut, ujarnya, sangat rawan terhadap kekeringan. Apalagi kekeringan yang terjadi masih sangat panjang.

"Informasinya sampai akhir Oktober masih kemarau. Harus ada tindakan apalagi menyangkut air," katanya.

Tahun depan, Rudy merencanakan untuk penambahan sumber air untuk irigasi. Anggaran sebesar Rp 20 miliar akan disiapkan untuk pipanisasi dari sumber air ke lahan pertanian.

Sejak Juli, Pemkab Garut telah membentuk Tim Reaksi Cepat Siaga Kemarau (TRCSK).

Persoalan kekeringan bisa dilaporkan ke Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kepala Dinas Pertanian Garut, Beni Yoga menyebut seluas 2.760 hektare lahan pertanian alami kekeringan. Sumber mata air dan irigasi yang kering jadi penyebab utama.

Beni menambahkan, ada 5600 hektare lahan pertanian yang terancam kekeringan. Kekeringan tersebar mulai dari wilayah utara dan selatan.

"Dari 2.600-an yang kering itu, 1.200 hektare tanaman padi puso. Mutlak kering enggak ada sumber air," ujar Beni.

Krisis air bersih juga mulai melanda permukiman warga. PDAM Tirta Intan Garut harus membagi waktu pasokan air kepada warga.

"Seperti di Cempaka, Karangpawitan kami gilir pasokan airnya. Ada yang siang dan malam. Tapi untuk wilayah lain, masih bisa 24 jam dapat pasokannya," kata Direktur Utama PDAM Tirta Intan Garut, Aja Rowikarim.

Aja menyebut, pelanggan PDAM Tirta Intan mencapai 52 ribu. Sebanyak 1.000 lebih pelanggan telah ditutup karena sudah tidak ada air yang mengalir. (firman wijaksana)

Penulis: Firman Wijaksana
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved