Tol Cipularang Perlu Penerapan Speed Gun dan Pembatasan Operasional Kendaraan Berat

Aturan pembatasan kecepatan kendaraan di Tol Cipularang harus diberlakukan sebagai antisipasi kecelakaan.

Tol Cipularang Perlu Penerapan Speed Gun dan Pembatasan Operasional Kendaraan Berat
Tribun Jabar/Ery Chandra
Petugas derek tengah mengatur posisi truk yang terbakar untuk dievakuasi di Tol Cipularang, kilometer 91, Kecamatan Sukatani, di Kabupaten Purwakarta, Selasa (10/9/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Aturan pembatasan kecepatan kendaraan di Tol Cipularang harus diberlakukan sebagai antisipasi kecelakaan yang kerap terjadi.

Pekan ini, terjadi kecelakaan beruntun. Padahal, kecelakaan maut yang melibatkan 20-an kendaraan juga terjadi pekan lalu juga terjadi di Tol Cipularang. Bahkan, kecelakaan maut tersebut menewaskan delapan orang.

"Rekomendasi kami perlu ada speed gun, penangkap kecepatan kendaraan," ujar Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Jabar Kompol efos Satria Wisnu Wardhana saat dihubungi via ponselnya, Rabu (11/9/2019).

Ia mengatakan, Tol Cipularang arah Jakarta banyak turunan curam, terutama mulai dari KM 100 hingga KM 80. Dua kecelakaan maut dalam dua pekan terakhir terjadi di KM 92.

"Di situ jalurnya landai dan menurun. Kalau nyetir di sana enggak kerasa kalau nambah kecepatan," ujarnya.

Tabrakan di Tol Cipularang Berawal dari Rem Truk Bermuatan Beling Blong dan Sopir Hilang Kendali

Misteri KM 90-100 Tol Cipularang, Antara Blackspot dan Mistis Petilasan Prabu Siliwangi

Di ruas jalan itu, memang terdapat rambu-rambu pengingat supaya pengendara mengatur kecepatan kendaraan.

Polisi memiliki alat pengukur kecepatan di jalan tol tapi alatnya masih manual alias harus diooperatori oleh petugas lalu lintas.

"Masih manual, enggak mungkin 24 jam terus dioperatori anggota kami," katanya.

Selain itu, ia juga menyinggung soal pembatasan operasional kendaraan berat melintasi Tol Cipularang, terutama, kendaraan berat yang melebihi kapasitas muatan.

"Enggak ada jam operasional muatan. Pengawasannya sulit, kami tidak bisa tongkrongin 24 jam di tol, harus ada sistem aturan. Kami rekomendasikan jam operasional," ujar Efos.

Meski begitu, pemberlakuan jam operasional kendaraan berat melintas di Tol Cipularang perlu kajian mendalam. Khususnya soal saat momen seperti apa pemberlakuan jam operasional.

"Mana jam pada mana yang risiko dilalui. Karus ada kajian. Cuma kalau ad ajam operasional, bisa lebih jelas kapan mau menimbang muatan," katanya. 

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved