Antisipasi Aksi Pemalakan di Cimahi, Polisi Giring Pelaku Premanisme ke Pengadilan

Kasat Sabhara Polres Cimahi, AKP Oeng Hoeruman, mengatakan, biasanya saat razia premanisme tersebut, pihaknya mengamankan sebanyak 30 orang

Antisipasi Aksi Pemalakan di Cimahi, Polisi Giring Pelaku Premanisme ke Pengadilan
Dok.Tribun Jabar
Ilustrasi: Polres Cimahi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI - Anggota Satuan Sabhara Polres Cimahi saat ini tengah meningkatkan razia premanisme setelah adanya kejadian aksi pemalakan yang dilakukan oknum preman di kawasan industri Kota Cimahi yang viral di media sosial beberapa waktu lalu.

Razia tersebut dilakukan di sejumlah titik Kota Cimahi, termasuk ke Kawasan Industri dengan tujuan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat, terutama sopir yang kerap dipalak oleh preman.

Kasat Sabhara Polres Cimahi, AKP Oeng Hoeruman, mengatakan, biasanya saat razia premanisme tersebut, pihaknya mengamankan sebanyak 30 orang yang dianggap menyebabkan keresahan bagi masyarakat dan pengguna jalan di Kota Cimahi.

"Sasaran utamanya jelas pelaku premanisme, pungli, bahkan pengedar obat terlarang yang juga kita amankan. Kalau premanisme contohnya sopir truk yang kemarin dipalak preman di kawasan industri," ujarnya di Mapolres Cimahi, Selasa (10/9/2019).

Video Pemalakan Sopir Truk Viral di Media Sosial, Polisi Selidiki ke Tempat Pelaku Mangkal

Pemalak di Santolo Ditangkap Polres Garut, Kasus Pemalakan Ini Sempat Ramai di Media Sosial

Setelah diamankan, para pelaku premanisme itu dibawa ke Mapolres Cimahi untuk dilakukan pendataan dan pembinaan, kemudian dilimpahkan ke pengadilan untuk mengikuti sidang tindak pidana ringan (tipiring).

"Sampai putusan, mereka terpaksa dikurung dulu 1x24 jam. Kalau tipiring mereka hanya bayar denda sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu," ucapnya.

Namun meski sudah dikenakan sanksi tipiring, Oeng menyebutkan tidak menutup kemungkinan para pelaku premanisme itu akan kembali ke jalanan karena memang siklusnya seperti dan mereka tidak memiliki pekerjaan lain.

"Biasanya, mereka itu beralasan butuh uang karena tuntutan ekonomi. Kalau mau kerja halal ngakunya susah," ujarnya.

Untuk antisipasi hal itu, pihaknya terus melakukan pemantauan karena identitas mereka ini sudah kantongi, sehingga apabila kedapatan lagi melakukan hal yang sama, sanksinya akan lebih berat.

Curug Malela di Bandung Barat Mulai Ditata, Ditargetkan Dikunjungi 100 Ribu Wisatawan Per Tahun

Kisah Perkenalan ZPD Siswi SMKN 1 Bandung dengan Pria yang Menusuknya, Awal Komunikasi Lewat Medsos

Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved