Begini Perasaan Sang Suami Setelah Kembali Berjumpa dengan Istrinya, 21 Tahun Hilang Kontak

Turini (51), mantan pekerja migran Indonesia (PMI)‎ asal Kampung Truag, Desa Dawuan, Kecamatan Tengah Tani,

Begini Perasaan Sang Suami Setelah Kembali Berjumpa dengan Istrinya, 21 Tahun Hilang Kontak
tribunjabar/hakim baehaki
Samsudin dan Turini 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Turini (51), mantan pekerja migran Indonesia (PMI)‎ asal Kampung Truag, Desa Dawuan, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, kembali menginjakkan kakinya di tanah air dan saat ini ia sedang memulai usaha bisnis ikan lele.

Suami Turini, Samsudin (49), mengatakan, ia tidak menyangka Turini dapat kembali berkumpul bersama keluarga, lantaran selama 21 tahun tak ada komunikasi sekali baik dari Turini atau pun perusahaan penyalur tenaga kerja.

"Campur aduk antara senang dan sedih, tidak menyangka bisa kembali lagi ke rumah, mau usaha bareng juga," kata Samsudin di Setu Patok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Minggu (8/9/2019).

Selama Turini di Arab Saudi, kata Samsudin, ia merasakan perasaan kacau, bahkan ia pun sempat pasrah bila tidak bertemu lagi dengan Turin‎i,"kasih surat tidak pernah sampai, keajaiban masih berpihak kepada kami," katanya.

Diketahui, Turini berangkat dengan sejumlah tenaga kerja lainnya pada 24 Oktober 1998 dan diberangkatkan oleh salah satu perusahaan yang diakui oleh Turini telah gulung tikar, empat tahun setelah ia diberangkatkan.

Bekerja di keluarga Aun Niyaf Alotibi di Dawadmi Wudak, Arab Saudi, Turini menjadi asisten rumah tangga tersebut yang mengurusi berbagai kegiatan, mulai dari mencuci, masak, dan membersihkan seluruh sudut rumah.

Bupati Purwakarta Minta Pemerintah Pusat Kaji Ulang Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Nahasnya, selama 21 tahun bekerja di keluarga tersebut, Turini mengaku tidak mendapatkan perlakuan menyenangkan dari majikannya itu, mulai dari tidak beri gaji layak, proses pembuatan paspor, hingga menerima kekerasan verbal dari anggota keluarga Aun Niyaf Alotibi.

Turini menuturkan, pada saat kontrak awal dengan perusahaan penyalur tenaga kerja itu, ia hanya dijanjikan bekerja selama dua tahun, kemudian setelah dua tahun meminta untuk pulang namun tidak diizinkan.

"Saya bingung, mau pulang tapi tidak tahu jalan. Kampung di sana sangat sepi, majikan saya sangat kejam," kata Turini.

Pada saat bekerja di keluarga tersebut, Turini mengaku pernah menuntut bayaran jasanya sebagai asisten rumah tangga, namun malah mendapatkan caci maki, meskipun belum pernah disiksa fisik.

Turini mengatakan, selama bekerja di Arab Saudi, ia sama sekali tidak pernah melakukan komunikasi baik melalui telepon atau pun surat dengan keluarganya di Kabupaten Cirebon.

Ini Dua Kantong Pekerja Migran Indonesia di Purwakarta, Sayang Kebanyakan Ilegal

"Saya pasrah, sudah berpikiran bakal mati di sana. Tidak manusiawi, kerja dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam," katanya.

Kabar hilangnya Turini, diketahui muncul sejak pertengahan 2014, tanda-tanda keberadaan Turini muncul pada Maret 2019 dan langsung ditelusuri oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Arab Saudi.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved