Pakaian Bekas Impor Bikin Rugi Pelaku Usaha Lokal dan Bahaya bagi Kesehatan Pembeli

Pada pakaian bekas impor ditemukan sejumlah virus, bakteri, dan jamur yang berbahaya bagi kesehatan pengguna dan orang-orang di sekitarnya,

Pakaian Bekas Impor Bikin Rugi Pelaku Usaha Lokal dan Bahaya bagi Kesehatan Pembeli
Tribunjabar.id/Mega Nugraha
Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kementerian Perdagangan menyita ratusan karung pakaian impor bekas di komplek pergudangan Safir Permai, Gedebage Kota Bandung, Kamis (5/9). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Terkuaknya gudang penyimpanan pakaian bekas impor di kawasan Pasar Gedebage, berdasarkan hasil sidak Petugas Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (PKTN Kemendag RI), membuat para pengusaha industri tekstil merasa lega.

Pasalnya selain merugikan dari sisi pendapatan pengusaha tekstil dan garmen lokal, tetapi juga telah melanggar Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014, tentang Perdagangan.

Wakil Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat, Rizal Tansil Rahman menilai,  upaya sidak yang dilakukan oleh petugas Kemendag terhadap gudang pakaian impor bekas di Gede Bage dapat memberikan efek shock therapy dan warning bagi para pelaku usaha serupa.

Pengusaha Tekstil Paling Dirugikan dengan Beredarnya Pakaian Bekas Impor, API Menyebutnya Sampah

Ironi Pakaian Bekas, Dilarang Impor tapi Laris Manis di Kota Bandung, Diburu di Pasar Cimol Gedebage

Ratusan Karung Pakaian Impor Bekas di Gedebage Bandung Disita, Pak Haji Marah Bayar Sewa Tapi Disita

Terlebih berdasarkan informasi yang diperolehnya, pelaku usaha tersebut merupakan bagian dari jaringan besar pakaian impor bekas yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

"Selain merupakan bentuk penyalahan aturan hukum atau ilegal, tetapi juga beredarnya pakaian bekas impor ini merusak pangsa pasar lokal yang seharusnya dapat diisi oleh para pelaku usaha lokal. Maka dengan alasan apapun usaha seperti ini jelas dilarang, bahkan masuk ke Indonesia pun barang-barang seperti ini tidak diperbolehkan," ujarnya saat dihibungi melalui telepon. Kamis (5/9/2019).

Rizal menuturkan, dengan hadir dan berkembangnya pelaku usaha pakaian bekas impor, selain merusak perekonomian dan pangsa para pelaku usaha lokal, juga berbahaya bagi kesehatan pengguna dan orang-orang di sekitarnya.

Berdasarkan uji laboratorium yang dilakukan oleh PKTN Kemendag RI saat sidak, pada pakaian bekas impor itu ditemukan sejumlah virus, bakteri, dan jamur yang berbahaya bagi kesehatan, bahkan virus dan bakteri tersebut tidak akan hilang meskipun telah di cuci berkali-kali.

"Meskipun saya belum menghitung secara pasti dampak kerugian para pelaku usaha lokal yang ditimbulkan dari beredarnya pakaian bekas impor selama ini. Akan tetapi seandainya dari 551 bal yang di sidak, berisi 100-150 potong pakaian bekas per balnya dengan harga jual Rp 50 ribu per pisnya total sudah miliaran kerugiannya, belum lagi terjadinya akumulasi harga dari bandar ke pedagang kemudian ke pengecer maka akan meningkat dua hingga tiga kali lipat kerugiannya. Maka terbayang jumlah itulah yang seharusnya didapatkan oleh para pelaku usaha lokal selama ini," ucapnya.

Dirinya pun berharap, agar pemerintah dapat melakukan tindakan preventif atau pencegahan terkait masuknya barang-barang impor bekas seperti ini, sebab dengan beredarnya pakaian bekas impor ini, menandakan dugaan adanya kesalahan penegakan aturan yang dilakukan oleh petugas penjagaan di gerbang pintu masuk barang impor ke Indonesia.

Halaman
12
Penulis: Cipta Permana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved