Gunung Tangkubanparahu Sudah Tiga Pekan Erupsi, SAR Pasundan Petakan Rawan Bencana di Subang

Gunung Tangkubanparahu yang masuk wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan Kabupaten Subang hingga saat ini

Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Kondisi Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu, Senin (29/7/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, LEMBANG - Gunung Tangkubanparahu yang masuk wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan Kabupaten Subang hingga saat ini statusnya masih level II Waspada dan masih terus mengalami erupsi dengan waktu sudah masuk tiga pekan.

Untuk menjaga keselamatan masyarakat, Relawan Potensi SAR Pasundan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang saat ini tengah melakukan pemetaan kawasan rawan bencana (KRB) untuk di daerah Subang.

Personel Potensi SAR Pasundan, Asep Koswara, mengatakan, wilayah Subang yang berpotensi terdampak erupsi Gunung Tangkubanparahu yakni Kecamatan Ciater dan Sagalaherang yang berjarak sekitar 4 hingga 5 kilometer dari pusat kawah.

"Jadi kami dan BPBD, melakukan pemetaan wilayah serta melakukan pemasangan papan penunjuk jalur evakuasi dan titik kumpul," ujarnya di Kawasan kawasan Tangkubanparahu, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (23/8/2019).

Lihat Rekor Kandang Badak Lampung Buruk, Abdul Aziz Yakin Persib Bisa Akhiri Puasa Kemenangan

Selain itu, pihaknya juga sudah membuat konsep mitigasi bencana berbasis masyarakat dengan tujuan menjadikan wilayah Ciater sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana) sesuai program BNPB dalam rangka penanganan resiko bencana.

Untuk itu, kata dia, warga Ciater dan Sagalahelarang diberikan pelatihan agar mandiri dalam hal mitigasi bencana, mulai dari pra bencana, saat bencana hingga pasca bencana.

"Desa Ciater memiliki satuan SAR sendiri, para orangtuanya bisa diberdayakan membuat dapur umum, dan aparat desa menjadi pusat data warga yang terdampak," katanya.

Menurutnya, konsep mitigasi bencana tersebut untuk mendidik warga supaya sadar dan mengerti agar dampak jumlah korban dan kerusakan infrastruktur bisa dikurangi jika sewaktu-waktu bencana itu terjadi.

"Konsep ini akan berjalan berkesinambungan, tidak hanya selesai saat aktivitas Gunung Tangkuban Parahu kembali dinyatakan normal," katanya.

Warga di Sekitar Bendungan Leuwikeris Krisis Air Bersih, Padahal Cuma 200 Meter dari Sungai Citanduy

Untuk pemasangan jalur evakuasi tahap pertama, kata Asep, telah dikerjakan sejak tanggal 21 Agustus 2019 dan akan terus dikerjakan hingga semua kawasan rawan bencana terpasang jalur evakuasi. Untuk saat ini pemasangannya baru di dua titik yaitu di Desa Cicenang dan Ciater.

"Ada sekitar 20 papan jalur yang sudah terpasang. Untuk titik kumpul evakuasi yakni di lapangan bola Dawuan dan lapangan parkir barat Ciater," katanya.

Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved