Breaking News:

Surya Paloh Sebut Indonesia Hari Ini adalah Negara Kapitalis yang Liberal, Singgung Proses Pemilu

Awalnya, Surya Paloh menyebut proses Pemilu yang dikuasai orang-orang yang memiliki sumber keuangan melimpah.

Tribunnews.com/ Fahdi Fahlevi
Ketua Umum NasDem Surya Paloh menyematkan jaket Partai NasDem kepada Petrus Fatlolon. 

"Kita sebagai bangsa yang terlalu banyak membuat energi negatif, kita bertikai satu sama lain. Kita dekat dengan materialistik, kita bersahabat dengan pragmatisme transaksional, kita pakai jubah nilai-nilai religi, tapi kita sebenarnya penuh hipokrasi," katanya.

Radikalisme

Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh melihat tantangan terbesar bangsa kedepan yakni mempertahankan Negara Kesatuan Negara Indonesia (NKRI) dalam sebuah kemajemukan atau pluralisme.

Sebab, menurutnya, kini bermunculan ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

Hal itu diungkapkannya saat memberikan kuliah umum kebangsaan bertajuk 'Tantangan Bangsa Indonesia Kini dan Masa Depan', di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019).

"Kaum garis keras, radikalisme ada di mana-mana, mulai anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga profesor, doktor, radikal. Jangan katakan itu tidak ada. Ini tantangan kita bersama," katanya.

Selanjutnya, ia menyinggung kemajemukan yang berpotensi memecah belah bangsa.

Namun, ia tetap meyakini bahwa kemajemukan yang membuat negara Indonesia bersatu dalam naungan ideologi Pancasila.

"Kemajemukan masih jadi andalan negeri ini sudah terjawab. Saya katakan with all my respect paling tidak pada 75 persen," jelasnya.

Sebagai anak bangsa, Surya Paloh berharap NKRI akan terus ada walaupun tantangan bangsa kedepan semakin berat.

"Saya masih harap untuk berjuang agar NKRI tidak boleh berubah, tidak boleh beda dalam hal apa pun juga, tapi dalam satu hal komitmen kita Indonesia," pungkasnya.

Editor: Ravianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved