Kisah Sang Pemantau Gunung Tangkubanparahu, Tidur Cuma 2 Jam, Keluarga Sering Bertanya Kapan Pulang

Gunung Tangkuban Parahu erupsi. Di balik erupsi menurus Gunung Tangkubanparahu itu, ada perjuangan dari para pengamat gunung api.

Kisah Sang Pemantau Gunung Tangkubanparahu, Tidur Cuma 2 Jam, Keluarga Sering Bertanya Kapan Pulang
Tribun Jabar/Syarif Pulloh Anwari
Hendri Deratama (32). Ia merupakan petugas pengamat Pos Gunung Api Tangkuban Perahu. 

Bagaimana pembagian sistem kerjanya ketika melakukan semua tugas untuk memantau kondisi Gunung Tankubanparahu di Pos Pemantauan ini?

Untuk pembagian tugasnya per 6 jam sekali atau gantian, tapi karena petugasnya di sini kurang, istirahatnya, ya, kurang juga karena harus mengover kerjaan yang lain, seperti membuat grafik. Intinya lelah kurang tidur.

Cara Mengecek Kondisi Kawah Ratu Gunung Tangkuban Perahu, Klik Link CCTV Resmi PVMBG Berikut Ini

Terus bagaimana untuk mengatasi agar kondisi tubuh tetap fit karena selama ini kan kurang tidur dan istirahat juga kurang cukup?

Kalau saya pribadi yang terpenting pola makan harus tetap teratur dan minum vitamin. Alhamdulillah meski kurang tidur tetap sehat dan bisa menjalankan semua tugas selama 24 jam, tepatnya selama gunung ini erupsi.

Biasanya kalau kondisi Gunung Tangkubanparahu lagi normal apakah harus memantau selama 24 jam dan tugasnya seberat ini?

Sama pemantauannya 24 juga, tapi sedikit santai dan istirahatnya cukup. Kami juga bisa nonton tv dulu, intinya tidak seberat ini, jadi sistem kerjanya itu sangat beda jika dibandingkan dengan kondisi normal, kalau sekarang kan lebih cape dan ngantuk.

Wisatawan di Gunung Tangkuban Parahu, Kamis (1/8/2019).
Wisatawan di Gunung Tangkuban Parahu, Kamis (1/8/2019). (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Apa dampak dan risiko dari tugas berat ini, khususnya untuk Bapak pribadi, selama memantau Gunung Tangkubanparahu Erupsi?

Kalau yang saya rasakan, ya, itu tadi, karena tugasnya sangat sibuk jadi kurang tidur, kurang makan, tapi untuk makan diusahakan harus teratur.

Saya harus memanfaatkan waktu dan menyediakan waktu untuk makan.

Kalau risiko sebenarnya tidak terlalu berisiko karena meskipun erupsi di sini tetap aman karena jarak dari sini ke Kawah Ratu 2,5 kilometer.

Halaman
123
Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved