Breaking News:

Kabupaten Bandung Ekspor Kolang-kaling 18 Ton Per Minggu ke Filipina, Bubuk Cokelat ke Bangladesh

Kabupaten Bandung ke berbagai negara di PT Alamanda Sejati Utama, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung

Penulis: Mumu Mujahidin | Editor: Ichsan
Tribunjabar/Mumu Mujahidin
Kabupaten Bandung ekspor kolang-kaling ke Filipina 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mumu Mujahidin

TRIBUNJABAR.ID, BANJARAN - Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian kembali mengekspor berbagai jenis komoditas pertanian dan perkebunan asal Kabupaten Bandung ke berbagai negara di PT Alamanda Sejati Utama, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Rabu (7/8/2019).

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan Ali Jamil menuturkan tidak hanya produk pertanian holtikultura seperti sayuran, ekspor kali ini juga mengirimkan produk-produk emerging (kebutuhan negara berkembang) yang dilakukan ekspor perdana, seperti kolang-kaling dan bubuk cokelat (kakao powder).

"Ada produk emerging yang melakukan ekspor perdana yaitu kakao powder (produk setengah jadi) dikirim ke Bangladesh. Dan kolang-kaling, by produk dari Pohon Aren ini akan dikirim ke filipina sebanyak 18 ton per minggu," tuturnya di Banjaran, Rabu (7/8/2019) pagi.

Selain produk emerging hari ini Badan Karantina Pertanian juga mengekspor komoditas pertanian dan perkebunan yang sebelumnya sudah sering diekspor ke luar negeri seperti selada air ke negara-negara Eropa dan green bean kopi ke Australia.

"Semua diekspor dalam bentuk produk setengah jadi, ini akan menambah nilai jual. Bukan lagi bahan baku kakao biji kering tapi sudah dalam bentuk bubuk," katanya.

Profil Enzo Zenz yang Viral Ditanya Panglima TNI, Bule Saleh Ngajinya Bagus, Fisiknya Juga Kuat

"Kopi juga diekspor ke Australia dalam bentuk green bean bukan dalam bentuk ceri. Ke depan harus masuk ke industri, jadi dalam bentuk kopi bubuk yang sudah dikemas dan siap konsumsi," tambahnya.

Ali sangat mengapresiasi pelaku-pelaku ekspor komoditas pertanian dan perkebunan ini. Mereka rata-rata adalah eksportir muda yang usianya masih sekitar 30 tahunan.

"Cari, eksplor komunitas emerging-emerging seperti itu, lakukan teroboson seperti itu. Mungkin besok-besok bukan kolang-kaling lagi tapi ijuknya bisa diekspor. Dua hari lalu, kami juga mengekspor lipan dari Medan ke Vietnam," ungkapnya.

Sementara salah satu ekportir muda Roni Sagala (38) menuturkan permintaan kolang-kaling dari Filipina cukup tinggi dengan harga yang kompetitif. Namun saat ini kendala yang dihadapinya adalah susahnya bahan baku di Jawa Barat.

Persib Tak Mau Kalah Lagi, Yaya Sunarya : Kami Sudah Berjanji untuk Berusaha Bisa Menang

"Kalau permintaan banyak tapi bahan baku yang susah, 1 pohon kolang kaling kan tidak bisa diambil semuanya. Ini pohon alami tumbuh begitu saja tidak dibudidaya jadi sulit," katanya.

Roni mengaku mendapat bahan baku di beberapa daerah di Jawa Barat, seperti di Garut, Cililin Bandung Barat, Subang dan sekitar Kabupaten Bandung. Saat ini Roni baru bisa memenuhi permintaan konsumen di Filipina sebanyak 18 ton per minggu.

"Harganya 1 kilogram bisa Rp 5-6 ribu per kilo ditambah biaya kapal dan lain-lain jadi Rp 9-10 ribu per kilo. Tapi kan di pasar lokal juga laku banyak permintaan kolang kaling gepeng," ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved