Mati Listrik dan Dingin di Malam Hari, Sejumlah Warga Bandung Bakar Sampah untuk Siduru

Aliran listrik di kawasan Antapani Kota Bandung dan sekitarnya‎ kembali normal pada pukul 22.15 WIB, Minggu (4/8/2019) setelah mati sejak pukul 12.00.

Mati Listrik dan Dingin di Malam Hari, Sejumlah Warga Bandung Bakar Sampah untuk Siduru
Tribun Jabar/Mega Nugraha
Petugas keamanan di belakang Terminal Cicaheum tepatnya Jalan Antapani Kota Bandung yang membakar sampah di tengah gelap gulit‎a, Minggu (4/8). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Aliran listrik di kawasan Antapani Kota Bandung dan sekitarnya‎ kembali normal pada pukul 22.15 WIB, Minggu (4/8/2019) setelah mati sejak pukul 12.00.

Sepanjang gelap gulita, ‎hanya sedikit dari ratusan pertokoan dan tempat makan di Jalan Purwakarta yang terang menggunakan genset.

Di tengah gelap, dingin, dan angin yang bertiup kencang, ‎pemandangan tak biasa tampak di sejumlah tempat.

Misalnya saja, di tengah gelap, banyak warga yang membakar kayu dan sampah di pinggir jalan.

Mati Listrik, Warga Antapani Bandung Jualan Lilin di Pinggir Jalan, Rp 5 Ribu per Batang

Seperti misalnya di Jalan Purwakarta, Jalan Terusan Jakarta, Jalan Ahmad Yani, Sulaksana hingga kawasan Terminal Cicaheum.

"Soalnya gelap, lilin habis. Jadi tadi kumpulkan sampah lalu dibakar supaya agak terang dan sedikit hangat karena cuaca malam ini dingin," ujar Bambang (40), pemilik kios di sekitar Lapangan Gasmin, Antapani.

Pemandangan serupa terlihat di sekitar Terminal Cicaheum. Sejumlah petugas keamanan komplek di belakang Terminal Antapani, di pinggiran jalan, mengumpulkan sampah kering kemudian membakarnya.

"Lalu dibakar supaya terang. Soalnya di jalan sini gekap sekali. Mana dingin dan angin kencang. Kalau mobil dan motor lewat baru terang, kalau tidak ada mah gelap sekali," ujar Tatang (49), petugas keamanan sebuah komplek di belakang Terminal Cicaheum.

Mati Listrik Pulau Jawa, PLN Telah Nyalakan 19 GITET, Berikut Daerah yang Listriknya Sudah Hidup

Apa yang dia katakan terbukti. Saat jalanan tidak dilintasi kendaraan, nyaris tidak ada sumber cahaya kecuali api yang dia bakar. Gelap dan sepi.

‎Bagi keduanya, hal yang mereka lakukan diakuinya tidak lazim dilakukan di sebuah kota besar.

Keduanya tersenyum saat mengenang membakar sampah untuk menghangatkan tubuh dan membuat terang.

"Memang, saya juga tadi ngobrol sama kawan saya, bakar sampah di tengah gelap itu mengingatkan seperti dulu saat listrik belum ada," ujar Tatang seraya tertawa.

Dalam khasanah Bahasa Sunda, aktivitas tersebut dikenal dengan nama siduru. Secara harafiah, diartikan membakar kayu kering untuk menghangatkan tubuh atau memasak.

Listrik Sebagian Wilayah Jakarta Sudah Normal, MRT Kembali Beroperasi

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved