Ratusan Mahasiswa Tuntut Keadilan di PTUN Bandung soal Sengketa Lahan Kampus STKIP Pasundan Cimahi

Ratusan mahasiswa yang terdiri dari STKIP Pasundan, STIE Pasundan, STH Pasundan, dan Unpas gelar aksi di depan PTUN Bandung

Ratusan Mahasiswa Tuntut Keadilan di PTUN Bandung soal Sengketa Lahan Kampus STKIP Pasundan Cimahi
Tribun Jabar/Cipta Permana
Sejumlah mahasiswa gabungan institusi pendidikan tinggi di bawah Paguyuban Pasundan menggelar unjuk rasa menuntut keadilan atas sengketa lahan STKIP Pasundan Cimahi di halaman PTUN Bandung, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (2/8/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ratusan mahasiswa yang terdiri dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pasundan, Sekolah Tinggi Hukum (STH) Pasundan, dan Universitas Pasundan menggelar unjuk rasa di depan Gedung Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung, Jumat (2/8/2019).

Melalui pengeras suara dan bentangan spanduk putih, mereka menyuarakan bentuk kekecewaannya terhadap hasil putusan sidang pertama terkait sengketa lahan seluas 7.400 meter persegi yang berada di dalam komplek pendidikan STKIP Pasundan, Kota Cimahi.

PTUN Bandung pada 25 Juli 2019 lalu, telah memutuskan, membatalkan surat keterangan kepemilikan lahan yang dimiliki oleh STKIP Pasundan dan dinilai telah cacat administrasi, serta memenangkan gugatan pihak ahli waris atas nama Asep Pedro yang mengaku merupakan keluarga dari pemilik tanah sebelumnya yang kini digunakan oleh STKIP Pasundan Cimahi selama 33 tahun.

Mahasiswa Pasang Spanduk di Pintu Masuk Bale Kota Tasikmalaya, Koruptor Dilarang Masuk

Atas dasar itulah, Ketua BEM Mahasiswa STKIP Pasundan Cimahi, Muhammad Ramdan Aditya bersama mahasiswa lainnya menggelar aksi guna meminta keadilan dari lembaga yudikatif tersebut. Selain itu, Ia pun berjanji akan terus mengawal proses persidangan hingga putusan akhir.

“STKIP Pasundan Cimahi itu adalah salah satu kampus pencipta para atlet kebangaan Indonesia di kancah nasional hingga internasional. Kami tidak mau kampus kami akhirnya mendapat perlakuan seperti ini, sehingga kami menuntut adanya keadilan dan kami akan terus melakukan aksi sampai almamater kami bisa menerima haknya kembali," ujarnya usai aksi di PTUN Bandung, Jalan Dipenogoro, Kota Bandung, Jumat (2/8/2019).

Aditya pun menuturkan, selama ini pihak sivitas akademika STKIP Pasundan selalu mendapat tindak intimidasi dari pihak penggugat, meskipun belum adanya putusan sah dari PTUN Bandung, seperti memasang spanduk besar bertuliskan DISEGEL di depan gerbang masuk, menggembok gedung Local Education Center (LEC) yang bediri diatas tanah sengketa tanpa seizin pihak kampus, serta kerap adanya pemantauan yang dilakukan setiap hari terhadap situasi di dalam kampus.

"Bahkan saat bulan puasa lalu, kami sedang menggelar aktivitas kegiatan rutin di atas tanah yang bersengketa itu, kemudian tiba-tiba mereka (pihak ahli waris) datang dan memaksa untuk membubarkan kegiatan kami, padahal pihak kampus pun tidak mempermasalahkan hal itu, sehingga hampir saja kami terbawa emosi, untungnya pihak kampus bisa meredakan emosi kami," ucapnya.

Rebahan dan Tutup Mulut dengan Lakban, Sejumlah Mahasiswa Demo Tuntut Wali Kota Tasik Mundur

Dalam kesempatan yang sama, Ketua STKIP Pasundan Cimahi, Dedi Supriadi menjelaskan bahwa, pada Tahun 1986, Yayasan Paguyuban Pasundan telah membeli tanah tersebut dari tokoh masyarakat setempat bernama Endang Sunarya dan langsung dilakukan pensertifikasian untuk menguatkan keabsahan identitas hak milik STKIP Pasundan Cimahi.

Namun setelah penyelenggaraan pelayanan pendidikan berlangsung selama 33 tahun, tiba-tiba terdapat pihak yang mengaku keluarga ahli waris yang melakukan gugatan atas tanah tersebut.

Halaman
12
Penulis: Cipta Permana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved