Disbudpar Indramayu Baru Catat 218 Situs Cagar Budaya, Ada yang Memprihatinkan dan Hilang

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ( Disbudpar ) Kabupaten Indramayu mencatat baru ada sekitar 218 cagar budaya di Kabupaten Indramayu.

Disbudpar Indramayu Baru Catat 218 Situs Cagar Budaya, Ada yang Memprihatinkan dan Hilang
tribunjabar/Handhika Rahman
Plt Kasi Permuseuman dan Kepurbakalaan (Muskala) Disbudpar Kabupaten Indramayu, Tinus (sebelah kanan) saat menunjukan bagian belakang Gedung Eks Asisten Residen Indramayu yang berlokasi di Desa Pengajian, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Kamis (1/8/2019). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ( Disbudpar ) Kabupaten Indramayu mencatat baru ada sekitar 218 cagar budaya di Kabupaten Indramayu.

Dua di antaranya bahkan termasuk cagar budaya nasional, yaitu Gedung Eks Asisten Residen Indramayu dan Asrama Militer Koninklijk Nederland Indie Lager (KNIL).

Plt Kasi Permuseuman dan Kepurbakalaan (Muskala) Disbudpar Kabupaten Indramayu, Tinus menyebut dari 218 cagar budaya ini meliputi bangunan bersejarah serta non bangunan bersejarah, semisal benda pusaka, dan lain-lain.

Ia mengakui jumlah tersebut masih sangat minim jika dibandingkan sejumlah sejarah yang dialami Kabupaten Indramayu mulai dari kerajaan Cina, penjajahan kolonial, zaman kemerdekaan, dan zaman sesudah kemerdekaan.

"Kondisi dari benda-benda bersejarah maupun bangunan bersejarah itu sekarang sangat memprihatinkan dan beberapa di antaranya sudah hilang," ujar dia kepada Tribuncirebon.com, Kamis (1/8/2019).

Kerkhof atau Pemakaman Kolonial Belanda di Indramayu Ini Malah Tergusur oleh Persawahan

Gedung Eks Asisten Residen Indramayu Kini jadi PAUD, Cerah di Depan Bagian Belakang Memprihatinkan

Walau banyak dari benda cagar budaya yang rusak, beruntung sebagian di antaranya masih dapat diselamatkan dan dirawat dengan layak.

Minimnya cagar budaya yang dicatat Disbudpar Kabupaten Indramayu, diakui Tinus lantaran Kabupaten Indramayu belum memiliki Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB).

Karena, untuk menetapkan sebuah bangunan, situs, atau benda sebagai cagar budaya harus berdasarkan rekomendasi dari TACB.

"Alhamdulillahnya kami mengenal seorang arkeolog, kami terus berkomunikasi dengan beliau dan berusaha menyelamatkan benda-benda bersejarah ini," ucap dia.

Halaman
12
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved