Sengketa Lahan 6.200 Hektare Milik PG Jatitujuh Temukan Titik Terang, LSM F-Kamis Sikapi Begini

Sengketa lahan seluas 6.200 ribuan hektare milik Pabrik Gula (PG) Jatitujuh mulai menemukan titik terang.

Tribun Jabar/Handhika Rahman
Musyawarah sengketa lahan milik PG Jatitujuh di Aula Joglo Makodim 0616/Indramayu, Selasa (30/7/2019). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU - Sengketa lahan seluas 6.200 ribuan hektare milik Pabrik Gula (PG) Jatitujuh mulai menemukan titik terang.

Diketahui lahan ribuan hektare ini menjadi perebutan antara pihak PG Jatitujuh dan warga Kabupaten Indramayu terkait hak guna lahan.

Asda Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Indramayu, Maman Kostaman mengatakan, berdasarkan hak guna usaha (HGU) kepemilikan lahan adalah mutlak milik PT Rajawali II selaku pengelola PG Jatitujuh.

Adapun titik temu dalam musyawarah itu, disepakati bahwa pengelola PG Jatitujuh yakni PT Rajawali II selaku pemilik HGU akan memberikan kebijakan agar masyarakat diperbolehkan untuk bercocok tanam di lahan milik PG Jatitujuh itu.

Namun dengan catatan, tanaman yang ditanam haruslah tanaman tebu.

"Alhamdulillah, komitmen kemitraan telah disepaki oleh beberapa pihak dalam musyawarah tersebut, tadi sudah diteken kesepakatan kemitraan dari LSM Ampera dan LSM JPKP," ujar dia kepada wartawan usai pertemuan kesepakatan di Aula Joglo Makodim 0616/Indramayu, Selasa (30/7/2019).

Tuntut Kejelasan Ganti Rugi Lahan Tol Cipali, Warga Berkumpul di Flyover Jatiwangi

Hadir dalam musyawarah itu Bupati Indramayu yang diwakili oleh Asda Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Indramayu, Kapolres Indramayu, Dandim 0616/Indramayu, dan perwakilan LSM Ampera, LSM JPKP, LSM F-Kamis, beserta beberapa camat di Kabupaten Indramayu.

Meski telah disepakati oleh sejumlah pihak, akan tetapi perwakilan dari LSM F-Kamis masih menangguhkan persetujuannya dalam kesepakatan tersebut.

Mereka berpendapat, kebiasaan masyarakat yang sudah terbiasa bercocok tanam menanam padi, dan beragam tanaman palawija lainnya sulit untuk dialihkan menjadi tanaman tebu.

Disampaikan Maman Kostaman, pihaknya akan menunggu keputusan dari LSM F-Kamis dalam tempo waktu 4 hari kedepan untuk segera menindaklanjuti kesepakatan yang telah dibuat, hal ini agar konflik berkepanjangan terkait sengketa ribuan lahan dapat cepat diselesaikan.

Pantauan Tribuncirebon.com di lokasi, musyawarah kali ini berlangsung aman dan tertib. Padahal diketahui pada musyawarah-musyarawah sengketa lahan sebelumnya selalu diwarnai dengan tensi tinggi baik dari kedua belah pihak.

Selain itu, Maman Kostaman menilai setelah diberikannya penjelaskan kepada ketiga LSM itu terkait ketetapan hukum tentang HGU Nomor 2 Tahun 2004 yang menyatakan kepemilikan tanah itu merupakan hak mutlak milik PT Rajawali II. Mereka dapat memahaminya dapat sepakat untuk menjalin kerja sama.

"Oleh karena itu, mari kita semua hapus masalah-masalah kebelakang yang tidak mengenakan, konflik berkepanjang lainnya, dan pada hari ini kami semua bergembira atas adanya komitmen bersama untuk menyelesaikan konflik ini," ujar dia.

Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved