Dedi Mulyadi: Pertemuan Megawati dan Prabowo Biasa-biasa Saja

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai pertemuan antara Prabowo Subianto dan Megawati sudah bisa diprediksi

Dedi Mulyadi: Pertemuan Megawati dan Prabowo Biasa-biasa Saja
Istimewa
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai pertemuan antara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri sudah dapat diprediksi sejak dulu.

"Sudah diprediksi sejak dulu, artinya kalau muncul sekarang sudah enggak aneh, saya sudah memperkirakan,” kata Dedi Mulyadi saat dihubungi, Kamis (25/8/2019).

Menurut Dedi Mulyadi, pertemuan dua tokoh nasional tersebut memang terbilang menggemparkan di masyarakat tapi hal tersebut biasa terjadi di dunia politik.

"Sebenarnya cair-cair saja. Bagi saya pertemuan Ibu Mega dan Pak Prabowo biasa-biasa saja karena sebelumnya pernah mencalonkan bersama, artinya enggak ada problem," tuturnya.

Dedi mengatakan pertemuan Prabowo dan Megawati sudah seharusnya diapresiasi dan disyukuri masyarakat Indonesia.

Dia pun mengimbau kepada masyarakat agar melupakan perseteruan antarpendukung carpes di Pilpres 2019. Menurut dia, rakyat saat ini lebih baik mengawasi kerja elit politik di eksekutif dan legislatif.

Usai Makan Siang Bersama Prabowo, Megawati: Beda Pendapat Biasa, Kenapa Diteruskan?

Prabowo dan Megawati Bertemu, Mantan Wagub DKI Jakarta: Mereka Sahabat Lama

Megawati bertemu Prabowo Subianto di kediaman Megawati di Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat, Rabu (24/7/2019).
Megawati bertemu Prabowo Subianto di kediaman Megawati di Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat, Rabu (24/7/2019). (Pramono Anung)

"Bagi saya baguslah, enggak ada lagi ribut-ribut urusan ideologi lagi. Pilkada juga nanti bisa bareng-bareng lagi. Pelajaran penting bagi rakyat, sudah deh, jangan bertengkar mati-matian ngebelain elite. Sudah, biasa saja. Jangan percaya sama pertengkaran elite. Ini musuhannya cuma di sinetron tapi kadang-kadang penonton terpengaruh,” ujarnya.

Dedi mengatakan cairnya hubungan politik antara Partai Gerindra dan PDI Perjuangan menunjukkan bahwa Indonesia menganut sistem politik terbuka.

Politik setelah reformasi, ujar Dedi Mulyadi, adalah politik terbuka yang tidak memiliki konsolidasi ideologis terlalu mendalam sampai ke pemilu 2014.

Dia menjelaskan, perang ideologi yang terjadi di Pilpres 2019 dimulai setelah Pilkada DKI 2019, saat Basuki Tjahja Purnama atau Ahok yang didukung oleh PDI-P sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dinyatakan bersalah oleh hukum karena dianggap telah melakukan penistaan agama.

Prabowo Temui Megawati, Pertanda Gerindra Gabung Koalisi Jokowi?

Fakta Pertemuan Prabowo-Megawati, Ini Lho Motif dan Makna Baju Batik yang Dikenakan Prabowo

Lebih lanjut Dedi menambahkan, pada Pemilu 2019 setelah pencalonan Ahok, munculah sentimen politik agama.

Dedi menilai, sentimen ini kemudian dimanfaatkan untuk membentuk sebuah kubu yang menumpang partai politik sebagai kendaraan.

Menurut Dedi, hal tersebut menyebabkan terjadinya dua kutub politik. Meski demikian, Dedi mengatakan jika yang menciptakan kutub-kutub politik, justru adalah akar rumput. Sementara kondisi elit politik baik-baik saja satu sama lain.

"Sebenarnya dari calon tidak ada yang mencerminkan politik aliran, baik dari kubu Prabowo-Sandi maupun kubu Jokowi-Maruf Amin tapi kemasan yang dibuat oleh para pendukungnya menjadi kemasan politik aliran, seperti Pertarungan ideologi. Saya bilang itu kemasantapi substansinya tidak ada pada akhirnya," kata Dedi Mulyadi.

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved