Harga Kencur di Tingkat Petani Anjlok hingga Rp 18.000 Per Kg, Sebelumnya Rp 35.000

Selama seminggu ini harga kencur-di Jawa Barat biasa disebut cikur-di tingkat petani di sentra produksi kencur

Harga Kencur di Tingkat Petani Anjlok hingga Rp 18.000 Per Kg, Sebelumnya Rp 35.000
ISTIMEWA
Kencur 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Selama seminggu ini harga kencur-di Jawa Barat biasa disebut cikur-di tingkat petani di sentra produksi kencur di Dusun Cikupa Desa Werasari Sadananya Ciamis turun drastis sampai ke angka Rp 18.000/kg kering panen.

Padahal awal bulan Juli ini masih kisaran Rp 30.000  sampai Rp 35.000/kg. Kencur merupakan bahan bumbu dapur seperti halnya jahe, kunyit, laja, lengkuas, hingga kapol.

“Penurunan harga cikur di tingkat petani ini sudah terasa sejak habis lebaran lalu, terutama saat memasuki musim kemarau ini. Menjelang lebaran harga cikur sempat  mencapai Rp 50.000/kg. Tetapi setelah lebaran berangsur-angsur turun,” ujar Ending (45), warga Cikupa Sadananya kepada Tribun Rabu (24/7/2019).

Pekan pertama awal bulan Juli lalu kata Ending, harga kencur masih cukup bagus yakni kisaran Rp 30.000 sampai Rp 35.000/kg namun setelah itu turun drastis.

“Waktu  di Sadananya ada pameran pertanian (HKP) awal pekan kemarin harga cikur masih kisaran Rp 30.000 sampai Rp 35.000/kg. Tapi dalam seminggu ini harga cikur benar-benar turun drastic, hanya Rp 18.000/kg,” katanya.

Anjloknya harga kencurmenjelang lebaran haji (Iduladha) ini, menurut Ending, diduga akibat banyaknya pasokan kencur ke pasar. “Musim kemarau biasanya banyak petani yang panen cikur. Jadi mungkin karena pasokan ke pasar banyak, harga pun jatuh,” ujar Ending.

Sepatu Jadul Keluaran Nike Ini Terjual Rp 6,1 Miliar, Rekor Jadi Sepatu Termahal

Di Cikupa menurut Ending luas tanaman kencur mencapai 40 hektare, terluas di lahan pengangonan Blok Pasir Boma mencapai 18 hektare. Bagi warga Cikupa bercocok tanam kencur merupakan tradisi turun temurun. Kencur ditanam secara tumpang sari dengan singkong, jagung, dan kacang tanah.

Misalnya di lahan  seluas 100 bata (1 bata – 14 m2) ditanami singkong, jagung, kacang tanah dan kencur. Yang lebih dulu panen adalah kacang tanah, kemudian jagung dan setelah itu singkong.

Sementara kencur dipanen terakhir setelah usia 2 tahun (2 kali musim kemarau) atau setelah dua kali panen suuk, dua kali panen jagung dan dua kali panen singkong.

“Dari 100 bata kebun cikur bisa menghasilkan  0,5 ton sampai 1 ton cikur tergantung pemelirahaan dan pemupukannya. Ketika harga cikur Rp 50.000/kg sekali panen  cikur bisa menghasilkan uang sekitar Rp 50 juta. Belum lagi dari  suuk, jagung maupun singkong. Singkong dari Pasir Boma paling favorit untuk bahan baku peuyeum Bandung. Makanya jangan heran bila di Cikupa ada warga yang naik haji maupun beli mobil dari lad-ang cikur,” ujarnya.

Prabowo Subianto Tak Datang dengan Tangan Hampa, Ini Hadiah untuk Megawati

Kencur hasil panen dari Cikupa kata Ending ditampung oleh Bandar local maupun Bandar yang datang dari luar. Kemudian dipasok ke pasar sayur mayur Garut dan Tasikmalaya. “Sebagian kecil masuk pasar Ciamis,” ujar Ending yang menyebutkan 200 bata kebun cikurnya saat ini belum dipanen.

Menurut Ending, meski bercocok tanam kencur di Dusun Cikupa maupun Desa Werasari secara umum merupakan tradisi turun temurun, kencur hasil panen petani dari Cikupa sampai saat ini dijual dalam bentuk umbi atau rimpang mentahnya.

“Nyaris belum ada yang dijual dalam bentuk olahan, baik setengah jadi maupun olahan sudah jadi. Katanya kalau dikeringkan dan dibuat tepung, cikur bisa jadi bahan industry. Mudah-mudahan kedepan Bumdes Werasari bisa berinovasi demi kesejahteraan petani cikur,” katanya 

Penulis: Andri M Dani
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved