RSJ Provinsi Jawa Barat Siap Jadi Pelayan Kesehatan Tanpa Tinggalkan Sampah Sisa Perawatan

Menggelar workshop bersama HCWH Asia, RSJ siap jadi pelayan kesehatan tanpa meninggalkan sampah sisa perawatan.

RSJ Provinsi Jawa Barat Siap Jadi Pelayan Kesehatan Tanpa Tinggalkan Sampah Sisa Perawatan
Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Peserta workshop kesehatan bersama Health Care Without Harm (HCWH) Asia yang bermitra dengan United Nations Development Programme (UNDP) berfoto bersama. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI - Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat mengadakan workshop kesehatan bersama Health Care Without Harm (HCWH) Asia yang bermitra dengan United Nations Development Programme (UNDP) untuk meluncurkan the Sustainable Health in Procurement Project (SHiPP) di Indonesia.

Workshop tersebut dimulai sejak 23 hingga 24 Juli 2019 di RSJ Provinsi Jawa Barat, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat untuk mengembangkan kriteria dan standar terkait pengadaan manufaktur yang berkelanjutan di sektor kesehatan.

Direktur Utama RSJ Provinsi Jawa Barat dr Elly Marliyani SpKJ MKM mengatakan, SHiPP tersebut nantinya akan dikerjakan oleh RSJ karena proyeknya berhubungan dengan misi rumah sakit jiwa.

"Misinya, kan, mewujudkan rumah sakit jiwa unggulan di Indonesia yang nyaman berkualitas dan inovatif jadi untuk mewujudkan itu, RSJ harus nyaman berbasis ramah lingkungan," ujarnya saat ditemui usai kegiatan, Selasa (23/7/2019).

Atas hal itu, kata dia, program tersebut sangat dibutuhkan oleh rumah sakit jiwa agar menjadi rumah sakit yang melayani kesehatan tanpa meninggalkan sampah dari sisa perawatan.

"Misalnya dari pelayanan kesehatan meninggalkan infusan, sampah bekas makanan pasien, nantinya hal tersebut jangan dilakukan," katanya.

Ketua Health Promoting Hospitals (HPH) Indonesia , Dr Suherman MKM, mengatakan, program SHiPP ini merupakan program dunia yang sudah diikuti oleh 39 negara, sedangkan untuk di Asia diikuti Korea Selatan, Indonesia dan Filipina.

"Untuk di Indonesia program ini bekerjasama dengan Health Promoting Hospitals yang sudah memiliki member sekitar 400 rumah sakit," ucapnya.

Ia mengatakan program tersebut diluncurkan karena saat ini banyak barang di rumah sakit yang terpakai tetapi tidak ramah lingkungan, sehinggal hal tersebut bisa membahayakan lingkungan.

"Solusinya minimal rumah sakit harus bisa meminimalisasi penggunaan sampah plastik karena penggunaanya di setiap rumah sakit sekitar 80 persen, jadi bukan hanya sampah bekas infusan," ucapnya.

Health Care Without Harm (HCWH) Asia ini, katanya, mengawali implementasi Sustainable Health in Procurement Project (SHiPP) atau Proyek Kesehatan yang Berkelanjutan dalam pengadaan di Negara-negara Asia Tenggara khususnya Filipina, Korea Selatan, dan Indonesia pada tahun 2019.

Ia mengatakan SHiPP sendiri merupakan proyek empat tahun yang akan dilaksanakan hingga 2021 oleh UNDP dengan pemerintah 10 negara yang dipilih sebelumnya dan ditingkatkan oleh HCWH dalam bidang sistem kesehatan di negara yang telah diidentifikasi sebelumnya, di mana terdapat rumah sakit anggota Global Green and Healthy Hospital (GGHH).

"Mitra proyek di Indonesia termasuk the Health Promoting Hospitals (HPH) diikuti berbagai rumah sakit swasta dan pemerintah yang meliputi Rumah Sakit Syamsudin (Sukabumi), Klinik Cahaya Qalbu, Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSKGM) Bandung," katanya.

Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved